Seikat mawar putih di tangan. Terikat erat seutas tali berwarna senada. Kelopaknya merekah sempurna hingga pucuk keindahannya. Daun-daun hijaunya masih tampak segar dengan sisa titik embun yang masih menempel di ujung.
Rangkaian bunga untuk tahun ini. Telah disiapkannya sejak beberapa jam sebelum gerak waktu menyentuh angka tujuh pagi tadi. Dipetiknya secara lembut dari kebun di belakang rumah.
“Sudah waktunya berangkat,” bisiknya lirih pada diri sendiri. langkahnya terayun perlahan, menuju stasiun terdekat menuju kota itu―kota kecil yang membuatnya kehilangan separuh dari jiwanya. Sesekali matanya melirik pada gerombolan mawar segar yang didekapnya erat di dada. Seutas senyum terlukis di wajahnya sebelum segurat muram menggantikannya.
Hatinya bergejolak keras. Setumpuk rasa sesak teronggok di sana. Di sudut hatinya. Lama rasa itu telah dicoba untuk dihalau dan bahkan ingin dilupakannya. Lalu dengan begitu, dia bisa hidup setenang lebih dari dua dekade yang lalu. Tapi tidak pernah semudah itu. Dan sekarang, setelah dia tahu dia berulang kali gagal, dia mencoba berdamai dengan kenangan yang menyesakkan. Menghirup dalam-dalam aroma luka yang belum sepenuhnya mengering.
Deru kenangan yang berputar di pikirannya seolah ingin menarik kembali ke masa itu. Sudah lama sejak waktu itu berlalu, tapi rasanya seperti baru kemarin.
Masih dirasakannya sakit yang sama saat pertama kali berita itu sampai padanya. Kegelisahan yang menguasai dirinya dalam waktu cepat membuatnya ingin berlari mencari tepian. Bibirnya tidak henti mengucapkan doa yang sama. Hatinya berusaha mencari sebuah penyangkalan akan apa yang didengar.
"Itu tidak benar. Katakan itu hanya lelucon. Katakan itu hanya... Oh, Tuhan!"
Berkali-kali dia mencari, berkali-kali juga dia tidak menemukan jawaban yang diinginkan. Satu-satunya yang didapatkannya hanya kenyataan bahwa apa yang didengarnya bukan sebuah lelucon April Mop yang terlambat. Kenyataan yang mengantarkan pada satu takdir yang nantinya tidak bisa dilupakan.
Dunianya seolah tidak mampu lagi menahan beban hidup. Runtuh. Tangisnya pecah dalam hening. Pendar cahaya yang dihasilkan layar televisi semakin buram di matanya. Suara panik yang menyusup diam-diam dari suara reporter saat itu serta raut wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan muram di sudut mata semakin membuat hatinya kalut.
Dia menarik nafas panjang sesaat setelah langkah kakinya memasuki stasiun bawah tanah yang akan mengantarkannya ke Sheffield. Kota yang menjadi saksi bisu peristiwa yang tidak pernah ada di benaknya jauh sebelumnya. Peristiwa yang tidak pernah terbayang. Peristiwa dua puluh dua tahun yang lalu.
***