Menulis itu tidak bisa dilakukan sembarang orang karena modalnya adalah bakat yang hanya didapat oleh orang-orang tertentu, sebab katanya bakat itu dari sononya (#nunjukperutbumil). Tapi, apakah itu benar? Syukurnya ditampik dengan istilah viral yang ini nih "tapi boong".Â
Alhamdulillah, saya masih bernapas lega, karena bukti konkrit saya sendiri, Bapak-Ibu saya, dan sampai Mbah-mbah saya ga ada yang terkenal, apalagi sebagai penulis kesohor. Artinya, menulis itu bermodal bakat itu tidaklah mutlak.
Hasil dari nonton, baca, menganalisa dan sedikit modifikasi didapati bahwa modal menulis selain bakat ada yang lainnya. Menurut buku Naning Pranoto, modal menulis itu ada 26 dikurangi 20, paham kan, matematika dasarlah dulu. Berikut modal-modal itu:
1. Tekad yang setrong (baca: kuat) atau kalau boleh saya serupakan adalah harus ada niat yang teguh. Sebab, niat inilah yang menjaga calon penulis mampu melewati aral rintang dan meski gali lubang dan tutup lobang, tetap semangat. Tapi, jangan lupa utang-utangnya tetap dibayar yak!.
2. Banyak-banyaklah membaca. Tentu saja dengan hobi baca, maka kita akan kaya akan kosakata. Ibarat bank, jika nasabah sedikit maka bank itu lambat laun bakal bangkrut, tapi jika bank itu sudah banyak nasabah, rajin pulak nabungnya, ya bank itu akan maju dan bangkrut karena banyak yang nakal dan KKN. Nah loh malah ke sana. Ya sudah, intinya kamu ga akan bisa jado menulis jika hobinya tidur mulu, catet!
3. Memperluas pergaulan adalah sebuah keniscayaan bagi calon penulis hebat. Jika mau jadi penulis biasa aja, introvret juga silahkan aja. Masa mau dikatakan hebat, kok penulis diem mulu di rubah, dah gitu jadi kaum rebahan pisan. Bagaimana mau tahu realitas yang sebenarnya di lapangan lingkungan masyarakat.
4. Penulis yang paham dengan cita-cita dan tujuan besarnya dia akan belajar banyak kosakata dengan banyak membaca apapun, termasuk tulisan-tulidan penulis terkenal. Setelah itu dia akan terinspirasi untuk menuliskannya kembali dengan gayanya sendiri.
5. Ya masa iya menulis itu tanpa bulpen dan kertas, emang dia itu dewa air yang menulis dengan menggunakan telunjuk dan air. Sarana dan prasarana bagi calon penulis itu tentu hal yang mutlak. Apalagi jaman milenial saat ini, rasanya edan aja bila ada penulis yang ga punya gadget atau smartphone sebagai sarana menulisnya dia di jaman sekarang ini. Nah, inilah yang dimaksud, mau jadi penulis? Modal dongs!
6. Penulis yang mau maju, dialah yang mau dan berani memiliki cita-cita untuk menciptakan karya-karya yang berkualitas dan jaminan mutu. Jika ini terus dipupuk, maka semangatnya penulis akan terus membara sampai pada akhirnya dia mampu membuahkan karya yang bisa dibanggakan.
Setelah kita punya beberapa modal itu lalu jangan biarkan mereka diam begitu saja apalagi sampai berkarat, gunakan lalu mulailah menulis! Pak Cah nasihat bahwa proses mengawali menulis yaitu dengan:
1. Mau dibawa kemana bentuk tulisan kita? Ada fiksi atau non-fiksi atau mencampur keduanya, seperti: Novel, karya ilmiah, cerpen dan lain sejenisnya.