Bogor, Jawa Barat | Upaya Rusia merampas seluruh wilayah milik Bangsa Ukraina tampaknya mulai berada di titik jenuh dan kebosanan. Rusia, utamanya Vladimir Putin, salah perhitungan; awalnya berpikir bahwa dalam tempo sebulan, Ukraina berhasil ditaklukkan. Ternyata tidak!
Hanya seperlima wilayah Ukraina yang diduduki; itupun setiap hari mendapat serangan sporadis dari tentara dan milisi Ukraina. Dalam sikon seperti itu, bila perang berkepanjangan, maka tentara Rusia akan mengalami nasib yang sama seperti di Afghanistan.
Sementara itu, Ukraina mempergunakan kesempatan titik jenuh Rusia tersebut, untuk konsolidasi, memperkuat pertahanan, serta membangkitkan semangat Nasionalisme membela Negara dan mengusir penjajah.
Dalam sikon perang seperti itu, agaknya para pemimpin Negara yang (telah) mencoba menjadi juru damai, mengalami jalan buntu. Vladimir Putin, berkeras hati walau sanksi ekonomi telah membuat rakyat Rusia terjepit, menjerit, dan kesulitan.
Kini, Presiden RI, Joko Widodo mencoba jadi  'Juru Damai.' Sebelum terbang menuju Jerman untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G7, Presiden Jokowi mengatakan, "Memang upaya ini tidak mudah, tapi kita, Indonesia, akan terus berupaya.Â
Setelah dari Jerman, saya akan mengunjungi Ukraina dan akan bertemu dengan Presiden Zelenskyy. Misinya adalah mengajak Presiden Ukraina, Presiden Zelenskyy, untuk membuka ruang dialog dalam rangka perdamaian, untuk membangun perdamaian."
Jujur, saya terharu! Terharu karena keberanian Presiden Jokowi. Ia bukan sekedar Ketua G 20 yang politis dan simbolis, melainkan Sosok Pemimpin. Pemimpin yang concern terhadap perdamaian Dunia dan kesejahteraan kemanusiaan.
Ia pun berusaha agar kemanusiaan yang tercabik-cabik di Ukraina segera dipulihkan dengan penghentian konflik, stop perang, serta membangun damai dan perdamaian.
Semoga
Opa Jappy | Indonesia Hari Ini