Dalam arti, mereka juga adalah korban perdagangan manusia; direkrut calo, dan kemudian dijual oleh para pemilik Bar dan Cafe, yang sekaligus mucikari.
Lalu?
Dari kasus di Tuti, di atas, seorang teman lama dari Tg Priok, ketika saya hubungi, ia mengatakan, itu hanya 'ketiban sial.' Dalam arti, di Jakarta banyak Bar dan Cafe seperti itu, tapi terlewatkan oleh aparat.
Saya pun mangut-mangut. Jadi, sebetulnya, menurut saya, Polri tidak hanya memeriksa Tuti cs, namun mengembangkan ke area lain, atau merambah ke Bar dan Cafe sejenis agar bisa 'menemukan' korban-korban lainnya.
Semoga
Opa Jappy | Indonesia Hari Ini
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI