Anda sudah mendapat informasi tentang Festival Film Toleransi yang III? Sayang, jika anda tidak tahu, padahal sudah ketiga kali diadakan. Tahun ini, 2018, dalam rangka memperingati Hari Toleransi Sedunia 16 November 2028, sejumlah aktivis dan pegiat toleransi mengadakan kegiatan yang dibungkus dalam frame Tolerance Film Festival III pada 15 - 18 November 2018.
Menurut penggagasnya, Monique Rijkers, Tolerance Film Festival diadakan secara gratis dan terbuka untuk umum, dan tidak ada registrasi atau bebas. Kegiatan yang diadakan di Auditorium Franais d'Indonsie  atau IFI Thamrin tersebut, termasuk (me)nonton bareng 11 Film menarik dan inspiratif tentang toleransi.
Nah. Masih ada waktu Jumat 16, Saptu 17 Nov, dan Minggu 18 Nov 2018, untuk anda datang dan ramaikan Tolerance Film Festival III. Festival yang bukan saja menghibur, namun juga penuh edukasi (publik) tentang bagaimana pengalam dan membangun toleransi.
Film yang Sudah Ditonton atau Diputar
Kamis, 15 November 2018
Shebabs of Yarmouk | Sutradara: Axel Salvatori-Sinz
Shebabs of Yarmouk film dokumenter, yang diperankan oleh Warga Palestina di Kamp Yarmouk; atau mereka bukan bintang film, tapi orang-orang biasa yang berperan sebagai diri sendiri. Shebabs of Yarmouk merupakan dokumentasi tentang hidup dan kehidupan Hassan Hassan, seorang Arab Palestina kelahiran Suriah. Ia tumbuh sejak kecil hingga dewasa, di kamp pengungsian Palestina di Yarmouk, Suriah, (Kamp yang kini sudah tidak ada akibat konflik di Suriah).
Sebagai seorang (anak) Palestina yang tumbuh kembang menjadi dewasa di Negeri Lain, Hassan mengalami pergulatan identitas, bahkan bisa disebut krisis jati diri dan dan identitas. Hal itu terjadi, akibat mereka telah tercabut dari tanah kelahirannya; Hasan tidak sendiri, namun hampir semua anak muda di Yarmouk, mengalami sikon yang sama.
Pada sikon seperti itu, meraka, ana-anak muda tersebut menghabiskan hari-harinya dengan bekerja serabutan, asal dapat uang, duduk ngobrol sepanjang hari sambil merokok dan mengungkapkan obsesi masa depan, jika Tuhan berkehendak.
Pada sikon kritis dan krisis seperti itu, Hassan masih memiliki cita-cita dan harapan masa depan untuk hidup serta kehidupan yang lebih baik. Ia pun berupaya mendapat ID Card (sebagai seorang Arab Palestina) dan paspor, menjadi seorang tentara, serta berencana membangun keluarga.
Sayangnya, obsesi, ciat-cita, dan harapan Hassan kandas atau tidak menjadi kenyataaan. Tahun 2011 konflik di Suriah menyasar Yarmouk. Dengan alasan yang tidak jelas Hassan ditangkap dan ditahan pemerintah Suriah pada tahun 2013. Ia pun tewas di dalam penjara.