Mohon tunggu...
om_nanks
om_nanks Mohon Tunggu... Lainnya - nikmati yang tersaji jangan pelit berbagi

☆mantan banker yang jualan kavling☆ ☆merangkum realita bisnis dalam sebuah tulisan☆ ☆penyelesaian kredit bermasalah advisor☆

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur Pilihan

Belajar Bisnis dari Seorang Tukang Potong Rambut

16 Januari 2023   13:19 Diperbarui: 16 Januari 2023   15:09 427
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi/tukang potong rambut di tahun 1920 (sumber: Instagram @fotojadoel )

Belajar Bisnis Dari Seorang Tukang Potong Rambut

Namanya Mat Delon (bukan nama sebenarnya), narasumber sepakat untuk berbagi ilmu tetapi enggan disebut nama sebenarnya. Seorang tukang potong rambut langganan sejak 2010 silam. Bukan babershop tapi tukang potong rambut biasa.

Kali ini penulis hendak bercerita tentang ilmu entrepreneur tetapi bukan dengan gaya yang teoritis, membosankan, apalagi hanya berdasarkan text book.

Penulis sendiri minim pengalaman berbisnis tetapi berusaha untuk rajin menggali dengan cara melakukan survey senyap, wawancara, ngobrol santai dengan pelaku usaha UMKM ditengah-tengah aktifitas sehari-hari di masyarakat supaya ilmu yang penulis dapatkan mampu diserap dan disampaikan kembali kepada mahasiswa.

Beberapa orang hanya menjelaskan berdasarkan apa yang dibaca dari buku bukan apa yang sedang dialami sendiri atau minimal apa yang dilihat dari perjalanan pelaku UMKM dengan cara seperti yang penulis sampaikan diatas, terjalin interaksi antara penulis dengan nara sumber pelaku usaha.

Beberapa kali bertemu dengan pelaku usaha UMKM jika diminta untuk menerangkan tentang ilmu bisnis layaknya seperti guru mengajar ke murid-muridnya mereka mengaku tidak bisa.

Hanya dengan gaya ngobrol santai tentang ilmu kewirausahaan yang sesekali diselingi obrolan politik tapi yang bernuansa guyonan, malah penulis banyak menyerap ilmu praktisi kewirausahaannya.

Inilah sebetulnya tugas dosen bisnis, jika secara praktik minim pengalaman bisnis seperti penulis.

Lakukan dengan memediasi kegiatan belajar mengajar dengan cara turun ke lapangan untuk survey, wawancara, penelitian secara mendalam agar mampu menyerap ilmu praktisi bisnis supaya lebih mudah menyampaikannya kembali kepada mahasiswa.

Riil dari siaran pandangan mata atau reportase. Semoga siapapun yang membacanya bisa sampai tuntas hingga akhir kata. 

Mat Delon, berpembawaan alim, murah senyum kata orang humble, meski tidak belajar marketing tapi dia paham betul tentang bagaimana cara memperlakukan dan melayani pelanggan supaya repeat order, meminjam istilah pedagang olshop(online shop) bisa juga diartikan pelanggan akan order/datang kembali.

Setiap kali menunaikan hajat potong rambut di lapak Mat Delon, penulis sempatkan untuk ngobrol tentang apa saja yang general dan dia menanggapinya dengan santai tetapi paham tentang apa yang sedang trending topic.

Itulah hebatnya dia. Selalu mendengarkan, menyerap ilmu dari banyak pelanggan yang dia ajak bicara dan menyampaikan kembali dengan gayanya kepada pelanggan yang lain ketika dimintai pendapat atau hanya sekedar merespon agar suasana ruangan tempat potong rambut ukuran 4x4 yang berpendingin udara ini semakin sejuk dan tidak garing, smart juga bukan?

*****

Dari sekian ratusan kali melakukan potong rambut di lapaknya Mat Delon. Baru kali ini penulis ngobrol dan bertanya tentang usaha-usaha yang sedang dijalani.

Lha koq ternyata di level dia sudah seperti konglomerat.

Selain usaha potong rambut, Mat Delon juga punya usaha minuman susu segar dan laundry.

Saya sampaikan demikian, "Mas, njenengan apa bisa fokus pegang secara bersamaan tiga usaha yang berbeda karakternya?" 

Di luar dugaan, jawaban yang saya terima tidak menyanggah tetapi mengiyakan, dan saat itu ybs sedang tidak baik-baik saja, pusing tujuh keliling.

 "Jenis usahanya banyak atau sedikit kalau rejeki yang diberikan Allah hanya setakaran ya buat apa saya buka usaha sebanyak itu. Mending buka usaha masing-masing suami dan istri satu, toch income perbulan yang kami terima sama," lanjutnya sembari curhat sebagai bentuk melepas beban di kepala.

Dia sampaikan menyikapi usaha laundry nya yang hidup enggan mati tak mau, terdapat beberapa kali kebocoran keuangan yang dilakukan oleh pegawainya, missmanagement yang berakibat sepi pelanggan padahal potensi laundry di kota ini amatlah besar.

Sempat juga dia sampaikan solusinya meskipun saat ini masih terasa berat baginya. 

Dan solusi yang diceritakan sungguh luarbiasa. Dia bercita-cita untuk membuka kembali usaha laundry tetapi untuk segmen premium dengan mesin yang canggih dan auto laundry.

Pelanggan melayani cuci sendiri dengan cara memasukkan koin ke mesin laundry seperti yang pernah dia lihat di negara-negara barat. Sehingga usaha ini sulit ditiru oleh orang lain.

Tentang peluang orang berduit masuk ke usaha tersebut dia sanggah demikian, belum tentu setiap orang berduit mau berkecimpung di bidang usaha laundry segmen premium untuk sebuah kota seukuran kota satelit ibukota propinsi.

Berikut sebuah kalimat yang paling menohok yang dia sampaikan di sela-sela melayani potong rabut pelangan:

"Usaha manusia itu hanya satu persen (1%), sisanya Allah yang berikan, ya sudah saya pasrah saja yang penting ikhtiar"  imbuhnya, sambil menyemprot air ke  rambut pelanggan supaya lebih mudah disisir dan dipangkas.

Luar biasa, penulis tidak mengira dan sedikit tersentak mendengar rangkaian kata-kata yang disusun tadi, meski menurut pengakuan Mat Delon hanya mengenyam pendidikan formal hingga Madrasah Tsanawiyah atau setara dengan SMP, namun pola pikir dan jiwa entreprenurnya sungguh luar biasa.

Baiklah kita sudahi dulu pembicaraan penulis demgan Mat Delon soal usaha konglomerasinya.

*****

Kembali ke tema utama usaha potong rambut Mat Delon.

Awal membuka usaha potong rambut tahun 2010 berbarengan setelah dua tahun pernikahannya dan selepas keluar dari tempat kerjanya yang lama sebagai tukang potong rambut, lebih tepatnya kata dia tempat "magang" sebagai profesional tukang potong rambut.

Sebelum kelupaan penulis sampaikan tentang cikal bakal Mat Delon hingga sampai di kota ini.

Selepas sekolah di Madrasah Tsanawiyah tahun 2005 Mat Delon merantau ke tempat saudaranya untuk membantu sekaligus belajar menjadi tukang potong rambut, yang telah tadi penulis ceritakan di awal.

Total waktu yang dijalani dalam proses pembelajaran dari bukan siapa-siapa hanya anak lulusan Madrasah Tsanawiyah hingga menjadi seorang tukang potong rambut profesional membutuhkan waktu lima (5) tahun.

Dalam kurun waktu tersebut, tentunya banyak drama dan peristiwa yang menyertainya, suka dan dukanya hanya Mat Delon yang merasakan.

Apapun itu sekarang manfaat yang besar telah dinikmati Mat Delon.  

*****

Menginjak tahun kedelapan, perjalanan menjadi tukang potong rambut, atas saran dan demi mendengarkan keluhan pelanggan soal sulitnya parkir di tempat lama, maka diputuskan untuk relokasi ke tempat baru yang tidak jauh dari tempat lama. 

Di tempat yang saat ini dipakai untuk usaha potong rambut dikelilingi dan bertetangga dengan banyak pelaku usaha UMKM dengan lahan parkir bersama cukup luas khususnya untuk parkir roda dua.

Lapak potong rambut yang baru dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Tarif sewanya lima juta per tahun dan belum pernah naik sejak ditempati tahun 2018 hingga sekarang.

Usaha potong rambut ini buka mulai pukul 09.00 dan tutup sampai dengan pelanggan habis atau apabila Mat Delon lagi capek jam berapapun akan ditutup.

Ruang eksekusi potong rambut sekaligus tempat antrian pelanggan yang sejuk berpendingin udara, lebih mirip dengan babershop, dengan tarif sebesar Rp 20 ribu rasanya setimpal dengan layanan yang diberikan dan tidak terlalu mahal bagi pelanggan.

Iseng penulis mencoba menghitung pendapatan tukang potong rambut, sekedar sebagai pembanding dengan penghasilan seorang pegawai kantoran yang bergaya perlente dan suka nenteng gawai keluaran terkini.

Ilustrasi perhitungan pendapatan ini berdasarkan pengamatan penulis bukan hasil wawancara.

Informasi tarif, durasi eksekusi potong rambut, jam buka dan tutup, jam istirahat, rata-rata occupancy, biaya sewa tempat secara pandangan mata sudah tereport di penulis. Dari data tersebut ketemulah berapa penghasilannya sebulan.

Setidaknya dapat memberikan ilustrasi profile usaha tukang potong rambut yang mampu berpenghasilan diatas ASN yang baru diterima dari jalur sarjana.

Jelasnya Mat Delon ini kerjanya tidak memakai seragam, tak bersepatu, berpenampilan sederhana apa adanya dan telah menikmati hasil jerah payahnya selama ini. 

Total waktu 17 tahun dari pertama kali datang di tahun 2005 hingga saat ini awal 2023, telah berkeluarga, mempunyai tiga orang anak, memiliki rumah dengan bangunan dua lantai hasil jerih payah menjadi tukang potong rambut.

Kita bisa menarik benang merah tentang proses berwirausaha yang bersangkutan. Bagaimana yang bersangkutan menjalani prosesnya hingga sukses seperti saat ini.

Ide bisnisnya selalu datang tiba-tiba dan segera direalisasikannya. Rumah yang dihuni saat ini untuk lantai satu(1) dibuat kost-kostsan dengan lima kamar sedangkan keluarga kecilnya berada di lantai dua.

Menjadi pewirausaha membutuhkan proses, perjuangan yang panjang, suka duka, istiqomah dalam menjalani serta ketakwaan kepada Yang Maha Segala.

Belajar Bisnis Dari Seorang Tukang Potong Rambut.

Semoga bermanfaat.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun