Mohon tunggu...
Rokhman
Rokhman Mohon Tunggu... Guru - Menulis, menulis, dan menulis

Guru SD di Negeri Atas Awan

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas Pilihan

Asesmen Nasional Beda dengan Ujian Nasional

20 Januari 2021   18:03 Diperbarui: 20 Januari 2021   18:07 1218
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: gurubelajar.simpkb.id

Bersyukur meskipun dalam situasi pandemi Covid-19 yang belum ada tanda-tanda penurunan, saya masih diberi nikmat sehat dan sempat. Dua nikmat inilah yang kadang banyak dilupakan orang ketika sedang sehat. Dengan nikmat sehat kita bisa merasakan makan enak dan tidur nyenyak. Dengan nikmat sempat kita bisa melakukan berbagai kegiatan.

Kegiatan pokok seorang guru di samping membimbing anak didiknya untuk belajar juga belajar untuk diri sendiri. Kegiatan belajar untuk diri guru sendiri tersebut dinamakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Itulah sebabnya, profesi guru menuntut agar mau belajar sepanjang hayat. Guru adalah manusia pembelajar.

Dalam  situasi pandemi berbagai platform pembelajaran daring banyak tersedia untuk guru. Salah satunya melalui https://sim-gurubelajar.simpkb.id yang diselenggarakan oleh kemdikbud. Ada beberapa alternatif pelatihan yang bisa dipilih guru yaitu seri masa pandemi covid-19, seri pendidikan keterampilan hidup, seri pendidikan inklusif, dan seri asesmen kompetensi minimum.

Dari empat seri pelatihan tersebut saya memilih seri asesmen kompetensi minimum. Pelatihan ini saya pilih karena ingin mengetahui lebih dalam terkait kebijakan baru kemdikbud ini. Saya berkesempatan mengikuti pelatihan daring angkatan ke-3 yang dilaksanakan Kamis, 14 Januari 2021 sampai dengan Senin, 18 Januari 2021.

Salah satu keuntungan mengikuti pelatihan ini saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul terkait dengan penghapusan Ujian Nasional dan pemberlakuan Asesmen Nasional antara lain apakah Asesmen Nasional adalah pengganti Ujian Nasional. Juga kekhawatiran banyak pihak mengenai persiapan siswa, guru dan sekolah menghadapi Asesmen Nasional.

Secara umum Asesmen Nasional (AN) dan Ujian Nasional (UN) itu beda. Untuk jelasnya berikut perbandingan beberapa hal penting mengenai keduanya (lihat tabel).

ilustrasi: gurubelajar.simpkb.id
ilustrasi: gurubelajar.simpkb.id
Berikut penjelasan setiap poin pembeda AN dan UN:

Tujuan penyelenggaraan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional tidak sama. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Asesmen Nasional bertujuan untuk mengevaluasi mutu sistem pendidikan di Indonesia, sedangkan Ujian Nasional bertujuan untuk mengevaluasi capaian hasil belajar siswa secara individu.

AN diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, dan pendidikan menengah atas. Ini termasuk MI, MTS dan MAN, serta program kesetaraan. Sementara UN pada Sekolah Dasar tidak diwajibkan, tetapi lebih mengarah pada Ujian Sekolah Berstandar Nasional.

Asesmen Nasional tidak diselenggarakan pada akhir jenjang pendidikan sebagaimana Ujian Nasional, melainkan di tengah jenjang pendidikan. Yaitu pada kelas 5, 8, 11. Hal ini dilakukan untuk mendorong guru dan sekolah melakukan tindak lanjut perbaikan mutu pembelajaran setelah mendapatkan hasil laporan AN. Jadi bukan sekedar untuk mengetahui capaian hasil belajar siswa sebagai salah satu syarat kelulusan.

Pada pelaksanaannya, Asesmen Nasional menggunakan metode survei. Metode survei dilakukan dengan mengambil sampel siswa diambil secara acak dari setiap sekolah. Berbanding terbalik dengan Ujian Nasional yang menggunakan metode sensus dimana semua siswa di seluruh Indonesia wajib mengikutinya.

Model soal asesmen yang diberikan dalam AN lebih bervariasi bukan sekedar pilihan ganda dan uraian singkat sebagaimana yang diberikan dalam UN.

Salah satu komponen hasil belajar murid yang diukur pada asesmen nasional adalah literasi membaca dan numerasi. Asesmen ini disebut sebagai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) karena mengukur kompetensi mendasar atau minimum yang diperlukan individu untuk dapat hidup secara produktif di masyarakat. 

Sementara Ujian Nasional berbasis mata pelajaran yang memotret hasil belajar murid pada mata pelajaran tertentu. Hal inilah yang terkadang memberi kesan mata pelajaran yang penting dan kurang penting dalam pendidikan. Dalam hal ini, AKM memotret kompetensi mendasar yang diperlukan untuk sukses pada berbagai mata pelajaran.

Metode penilaian AN dan UN pun berbeda meskipun keduanya berbasis komputer. AN menggunakan metode penilaian Computerized Multistage Adaptive Testing (MSAT). MSAT ialah metode penilaian yang mengadopsi tes adaptif, dimana setiap siswa dapat melakukan tes sesuai level kompetensinya.

Jadi Asesmen Nasional bukan pengganti Ujian Nasional. Selain dari teknis pelaksanaannya, cakupan Asesmen Nasional berbeda jika dibandingkan dengan Ujian Nasional. Asesmen Nasional lebih memberikan gambaran yang lebih utuh dan luas mengenai mutu pendidikan, bukan hanya secara kognitif, namun juga karakter dan iklim belajar. Salam.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun