Sejak tahun 1998, telah terjadi sekitar 6 juta kematian terkait konflik di DRC (Democratic Republic of the Congo). Pada tahun 2023, terjadi pembantaian genosida di provinsi-provinsi timur seperti Nord-Kivu, Sud-Kivu, Ituri, Tanganyika, Kasaï-Oriental, Kasaï Central, Kasaï, dan Mai-Ndombe. Selain itu, lebih dari 6,7 juta penduduk Kongo harus mengungsi akibat konflik yang terus berlanjut. DRC juga memiliki tingkat kekerasan seksual tertinggi di dunia, dengan 400.000 perempuan menjadi korban pemerkosaan setiap tahunnya.
Penyebab Konflik di Kongo
Konflik di Kongo dimulai dengan Perang Kongo Pertama (1996-1997) yang menewaskan sekitar 6 juta orang di bagian timur negara ini. Perang ini dipicu oleh campur tangan negara-negara lain, termasuk Rwanda dan Belgia, serta dampak dari kolonialisme dan konflik pemberontakan yang berdarah. Selain itu, kontrol atas sumber daya alam seperti lithium, kobalt, tembaga, dan berlian juga menjadi penyebab utama kekerasan dan persaingan antar kelompok milisi yang didukung oleh kekuatan asing.
Kondisi Kongo Terkini
Pada November 2023, kelompok bersenjata menyerang sebuah desa dan membunuh 19 penduduk lokal. Lebih dari 450.000 orang telah mengungsi ke Rutshuru dan Masisi di provinsi Kivu Utara dalam enam minggu terakhir. Konflik ini sebagian besar disebabkan oleh gerakan M23, sebuah kelompok pemberontak yang didukung oleh Rwanda dan didanai oleh negara-negara Barat seperti AS dan Inggris. M23 telah menguasai beberapa kota di timur Kongo, termasuk Bunagana, dan melancarkan serangan terhadap Angkatan Bersenjata Kongo.
Dampak Kekerasan pada Masyarakat Sipil
Kekerasan di Kongo telah mengakibatkan kematian sekitar 5,4 juta orang sejak 1998, dengan 7 juta orang lainnya mengungsi, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Diperkirakan 48 perempuan diperkosa setiap jamnya, dan banyak korban yang kemudian dipekerjakan secara paksa di tambang-tambang. Milisi M23, yang didukung oleh Rwanda, telah terlibat dalam bentrokan hebat dengan tentara Kongo, menyebabkan banyak orang mengungsi dan terjadi kekerasan besar-besaran di provinsi Kivu Utara.
Respons Internasional dan Situasi Kemanusiaan
Misi Stabilisasi Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO) dijadwalkan akan menarik diri dari DRC pada akhir tahun 2024, meskipun ada kekhawatiran tentang kekosongan keamanan yang mungkin ditinggalkan. Komunitas internasional, termasuk Perancis dan Malta, telah mengecam kekerasan ini dan menyerukan dialog serta pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata. Namun, Rwanda dituduh mendukung milisi M23 dan kritik terhadap peran Rwanda dalam konflik ini terus berlanjut.
Konflik ini telah menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi, dengan lebih dari 500.000 orang mengungsi di Kivu Utara sejak Oktober 2023. DRC menghadapi tantangan kemanusiaan yang signifikan, termasuk kemiskinan ekstrem, ekspansi pertambangan, dan kebutuhan akan dukungan keamanan, bantuan medis, serta bantuan kemanusiaan lainnya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI