Puasa melatih mereka yang menjalankannya untuk berlatih berbuat kebaikan. Salah satunya adalah belajar untuk meminta maaf kepada orang lain yang merasa perbuatan kita telah menyakiti hatinya atau meyinggung perasaannya.
Tetapi sringkali niat baik kita untuk meminta maaf tidak diterima dengan baik. Permintaan maaf kita yang tulus tidak ditanggapi dengan baik bahkan ditolak mentah-mentah. Banyak orang kemudian menjadi marah dan memendam perasaan dendam. Dalam hati lalu timbul keinginan untuk membalas dendam jika orang yang bersangkutan meminta maaf kepada kita maka kita gantian tak memaafkannya.
Sikap demikian tentu tak sehat. Pertama, memendam dendam itu seperti menyimpan sampah busuk di dalam hati yang kita bawa ke manaa-mana sehingga justru menjadi beban bagi kita sendiri.Â
Kedua, dengan meyimpan dendam dan suatu saat gantian membalas dendam maka lingkaran dendam itu menjadi tak ada ujung atau selesainya. Salah-salah bisa orang yang tidak bersalah yang kita anggap terkait dengan orang yang tak mau memaafkan kita menjadi sasaran dendam dan amarah kita.
Oleh karena itu jika permintaan maaf kita yang tulus tak diterima atau ditolak mentah-mentah maka sikap kita yang baik adalah mememaafkan orang tersebut atas sikapnya. Juga kita perlu berdamai dengan hati kita dan emosi kita dengan menanamkan dalam hati kita bahwa pokoknya kita sudah tulus meminta maaf kepada orang tersebut dan tak akan mengulanginya lagi. Maka hidup dan hati kita akan menjadi damai.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H