Nah, akibat "terdesak" terhadap pengoperasian lokomotif uap inilah yang secara lambat laun membuat BTM menyerah. Maka, NISM melalui NITM mengambil alih BTM untuk melakukan revolusi transportasi di Batavia. Kereta kuda pun langsung hilang di jalan-jalan utama Batavia.
Terlebih ketika jalur kereta Cikampek hingga Cirebon mulai dibahas oleh Pemerintah Hindia Belanda, maka tidak ada alternatif lain, bila moda transportasi kuno mulai diperbarui. Sebenarnya, pada jalur jalan raya Deandels, moda transportasi kereta kuda masih sangat dominan di masyarakat.
Mungkin hal tersebut juga sebagai opsi utama yang membuat pembukaan jalur kereta api lintas Cikampek sempat tertunda. Seperti yang dilansir melalui laman heritage.kai.id, rute utama yang menjadi target pembukaan jalur kereta api adalah di bagian selatan Jawa Barat. Meliputi rute Bandung, Sukabumi, hingga Kroya di Jawa Tengah.
Sementara, kisah kereta kuda di Batavia tetap menjadi legenda hingga memasuki tahun 1900an. Walau sempat mengemuka dalam buah bibir masyarakat Batavia, yang mulai kesal karena lokomotif uap NITM kerap mogok karena hujan. Lantaran, kuda tidak kenal panas dan hujan, tetapi loko uap, kerap bermasalah ketika hujan melanda.
Demikian kiranya kisah sejarah kereta api Indonesia di Batavia. Semoga bermanfaat, terima kasih.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H