Aku pun bertanya-tanya,
Jikalau perjalanan rindu yang tak terungkap itu,
Ada kalanya seperti,
Pembuluh darah yang tersumbat?
Oksigen yang tak tersampaikan pada porsinya,
Bak rindu yang tertahan pada poros sukmamu,
Memaksamu untuk,
Menghentikan gerak hati dan logika yang memang,
Sudah tak lagi pernah seirama.
Begitu kira-kira puisi yang saya tulis untuk menggambarkan kerinduan yang tertahan. Seperti halnya, kerinduan yang tak kunjung tersampaikan karena terhalang jarak dan waktu bagi para pejuang LDR.
Dari padanan katanya saja, Long Distance Relationship, sudah bisa ditebak bahwa ini merupakan sebuah fenomena hubungan jarak jauh. Namun, yang membuatnya ambigu adalah, sejauh apa kata "long" di sini diartikan sebagai jauh? Apakah hanya sebatas pada beda kota dan beda negara? Atau bagaimana jika beda desa?
Karena sepertinya kata "jauh" di sini juga relatif. Ada pasangan yang merasa beda kota tapi LDR. Ada pasangan yang juga beda kota tapi tidak LDR. Sebut saja, jika kita dan pasangan tinggal di wilayah Jabodetabek yang berbeda, apakah bisa disebut LDR?
Ah, ya sudah, tidak usah bertanya-tanya lagi arti dari kata "jauh". Secara konteks, kata "jauh" di sini sepertinya bisa diartikan sebagai sebuah faktor penghalang intensitas pertemuan secara fisik bagi dua insan yang sedang berdekatan hatinya, betul tidak?
Pentingnya bertemu secara fisik
Dalam sebuah hubungan romantisme dua insan, tidak bisa dipungkiri bahwa pertemuan secara fisik turut mempengaruhi ikatan emosional yang terjalin antara keduanya. Sekedar hanya untuk melihat wajah pasangan dari dekat dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Hal ini tentu tidak sama dengan yang bertemu secara virtual hanya di layar telepon seluler. Meskipun pertanyaan "kamu sehat?" dijawab dengan "sehat dong", rasanya tidak selega saat melihat si dia benar-benar sehat di dekat kita.
Atau saat hanya bisa berdiam diri di kejauhan sana setelah menerima pesan "hari ini aku nggak enak badan". Wah, pasti bisa langsung membuat galau karena kita tidak sedang berada di dekatnya saat si dia sakit.
Akhirnya, yang tercipta justru rasa bersalah. Tapi, mau menyalahkan siapa? Memang jarak dan waktunya yang sedang berjauhan dan tak lagi sama.
Meskipun ikatan hati rasanya dekat-dekat saja, tapi ikatan emosional bisa naik turun, kadang dekat kadang jauh. Tentu ini berpengaruh terhadap emosi masing-masing dalam menjalin hubungan.