Mohon tunggu...
Nizwar Syafaat
Nizwar Syafaat Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Konsep Islam Nusantara Tidak Berguna dan Membingungkan?

26 Juli 2018   10:00 Diperbarui: 26 Juli 2018   10:09 2680
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Diberitakan di berbagai media massa bahwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat menolak konsep Islam Nusantara dengan berbagai alasan dua diantaranya seperti dalam dokumen siaran pers-nya: 

(1) Jika yang dimaksudkan dengan istilah "Islam Nusantara" adalah keramahan washatiyah (proporsional dan pertengahan dalam keseimbangan dan keadilan), toleransi dan lainnya, itu bukan karakter khusus Islam di daerah tertentu tetapi adalah di antara mumayyizat (keistimewaan) ajaran Islam yang sangat mendasar. Karena itu menghadirkan label "Nusantara" untuk Islam, hanya berpotensi mengkotak-kotak umat Islam. 

(2) Jika dimaksudkan dengan "Islam Nusantara" adalah Islam yang toleran, tidak radikal kemudian memperhadapkan dengan kondisi Timur Tengah sekarang, maka sikap ini mengandung tuduhan terhadap ajaran Islam sebagai pemicu sikap radikal dan tindakan kekerasan. 

Penolakan Konsep Islam Nusantara menurut MUI Pusat sudah menyalahi khittah MUI sebagai wadah musyawarah dan silaturahmi para ulama, zuama dan cendekiawan muslim dari berbagai organisasi,  kata Zainut melalui keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/7).

Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukan agama baru, bukan juga aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan sejarah Islam masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tapi kompromi terhadap budaya, seperti acara tujuh bulanan ketika istri hamil atau ziarah kubur. 

Acara-acara seperti itu kemudian diisi dengan salawat, istighfar dan doa-doa sehingga tak menghilangkan budaya yang ada tetapi tetap bernuansa Islam.  Dan Islam Nusantara tak mungkin menjadikan orang berubah radikal. Tradisi Islam Nusantara tidak mungkin menjadikan orang radikal. Tidak mengajarkan membenci, membakar, atau bahkan membunuh.

Al Quran dan Hadist sebagai Podoman Hidup dan Muhammad sebagai Suri Tauladan.

Sesungguhnya konsep Islam Nusantara diluncurkan di saat pemerintah merasakan goyangan makin keras terhadap Pancasila dan NKRI oleh kelompok radikalisme.  Seharusnya logikanya dibalik, apakah islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad berdasarkan Quran dan Hadist tidak cukup kuat untuk melahirkan perdamaian dan mencegah radikalisme di bumi nusantara ini, sehingga harus melahirkan konsep Islam Nusantara? Termasuk apakah Islam Quran dan hadist akan menggerus budaya nusantara?. 

Menurut saya kalau ada umat Islam yang meninggalkan budaya nusantara yang tidak sesuai dengan Quran dan hadist itu merupakan perintah Allah dan Rasulnya, jangan diartikan sebagai menentang Pancasila dan NKRI.

Bagi saya Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah universal dan lengkap terinci serta sempurna  sebagai pedoman hidup umat muslin di Indonesia maupun di dunia.  Allah telah menjadikan Nabi Muhammmad sebagai suri tauladan dalam menjalani kehidupan bagi seluruh umat muslim di dunia. 

Islam sebenarnya mudah, tinggal belajar Quran dan hadist yang menjadi perintahNya dan laranganNya, dan menjadikan Nabi Muhammad sebagai contoh dalam menjalani hidup sehari-hari, sehingga umat muslin Indonesia akan mampu mengintegrasikan budaya nusantara dengan Islam tanpa benturan karena Islam adalah damai.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun