Membaca merupakan budaya dan kebiasaan yang sudah mengakar kuat di banyak negara maju. Contoh terkenalnya adalah di Jepang. Warga negara Sakura tersebut dikenal doyan membaca di mana saja, termasuk di keramaian pada tempat terbuka, tak terkecuali di sarana transportasi umum. Lalu bagaimana dengan di Indonesia?
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University bersama UNESCO (badan PBB untuk bidang budaya dan pendidikan) pada tahun 2016 lalu mengenai “Most Literate Nation in The World”, peringkat minat membaca dan indeks literasi atau kemampuan baca-tulis penduduk Indonesia berada pada posisi ke-60 dari 61 negara yang diteliti (Thailand ada pada urutan ke-59 dan Bostwana di peringkat ke-61). Temuan itu jelas menyedihkan. Padahal, salah satu indikator kemajuan suatu bangsa adalah tingginya minat baca masyarakatnya.
Yuswohady memaparkan di awal acara bincang-bincang tentang kisah nyata MC kondang keturunan Afrika di Amerika Serikat, Oprah Winfrey, yang sukses karena kebiasaan membacanya sejak kecil yang ditularkan oleh neneknya. Buku berhasil menghapuskan kemiskinan yang dirasakan Oprah saat masih tinggal di salah satu daerah pertanian kecil : “Books were my pass to personal freedom.” Pengetahuan dari buku membuat Oprah bisa berkarya dengan luar biasa.
Selaras dengan program ‘jemput bola’ yang dilakukan oleh Perpusnas RI dan ‘Buku untuk Indonesia’ dari BCA, Badan Bahasa dari Kemendiknas RI juga memiliki “Gerakan Literasi Nasional” untuk menyebarkan buku ke seluruh pelosok Indonesia. “Caranya dengan pemerintah mendistribusikan sejumlah buku – di luar bahan ajar – ke sekolah yang tersebar di Indonesia,” papar Dadang Sunendar. Imbuhnya lagi, “Peningkatan minat baca siswa juga termasuk dari program ‘Gerakan Budi Pekerti di Sekolah’ dengan rutin membaca buku di perpustakaan.”
Jika buku sudah tersedia, lalu bagaimana caranya menumbuhkan minat baca? Pakar psikologi anak dan keluarga dari UI, Tjut Meutia mengungkapkan usia 6 tahun pertama seorang (Golden Age) adalah masa paling tepat untuk membiasakan seseorang gemar membaca. “Minat baca seseorang dimulai dari sekelilingnya, terutama dari orang tua dan keluarga dengan membacakan dongeng sebelum tidur (bedtime story). Saat sudah bersekolah, lingkungan pertemanan di sekolah juga mempengaruhi kebiasaan baca anak,” ujar Dekan FPsi UI tersebut. “Biasanya anak yang suka membaca juga akan lebih nyaman berteman dengan para penggemar buku lainnya karena kesamaan minat dan hobi,” urainya lagi.
Kafe BCA 5 minggu lalu semakin seru (dan juga lucu) dengan penuturan Andy Noya tentang kisah hidupnya yang banyak terselamatkan karena hobi membacanya. Dibesarkan dari keluarga broken home, ibunda Andy yang berprofesi sebagai penjahit mati-matian menyisihkan penghasilannya untuk membeli koran ‘Suara Karya’ saat Andy masih SD. Pengorbanan yang sangat luar biasa menyentuh karena untuk makan sehari-hari pun, keluarga mereka masih kesulitan. Saat menceritakan pengalaman mengharukan itu, Andy sempat terbata-terbata karena luapan emosi yang tak tertahankan ketika mengingat kasih ibunya yang sepanjang jalan.
Saat Andy berkisah tentang Kuncung, saya pun lantas teringat kegemaran saya membaca majalah anak terbitan Kompas Gramedia yaitu majalah ‘Bobo’. Mulai TK nol besar hingga kelas 3 SD, orang tua saya yang 100 persen membelikan majalah berlogo keluarga kelinci yang imut dan harmonis itu. Nah, mulai saya kelas 4 hingga 6 SD, orang tua pun membiasakan saya untuk menabung uang jajan harian saya agar setiap minggunya dapat membeli Bobo tanpa harus dibelikan lagi sepenuhnya oleh mereka. Hari membeli Bobo selalu saya tungggu-tunggu kala itu.