Di pertengahan tahun, tidak sedikit orang yang sudah berpikir untuk pindah kerja. Tahun baru, tempat kerja pun baru. Maka selama sisa setengah tahun, para pekerja mulai rajin mengirimkan lamaran kerja ke perusahaan anyar.
Biasanya, ada dua alasan pindah kerja yang paling umum. Pertama, ingin mendapatkan kenaikan gaji di kantor baru. Alasan yang sangat manusiawi dan realistis. Kedua, ingin memperoleh pengalaman dan kesempatan baru. Alasan yang idealistis sekaligus pragmatis.
Kedua alasan pindah kerja di atas tentu tidak ada yang lebih superior. Malah sebaliknya, keduanya bisa saling melengkapi. Semakin besar gajinya plus memiliki kesempatan mengembangkan diri. Syaratnya, seseorang juga bisa jeli dalam menyiasati dua faktor penting lainnya –di luar gaji dan pengalaman- sebelum mantap untuk memilih bekerja di satu tempat. Apakah itu?
Jarang sekali calon pelamar kerja mempertimbangkan kedua faktor ini saat mencari tempat kerja. Apalagi jika sejak awal, seseorang sudah terbuai dengan iming-iming gaji dan fasilitas kerja yang setinggi langit. Padahal, faktor jarak dan waktu tak kalah pentingnya dengan pertimbangan gaji serta pengalaman. Bukankah setiap orang sama-sama memiliki 24 jam dalam sehari? Tak lebih maupun kurang. Wajarlah jika (hampir) semua orang enggan menghabiskan waktunya dalam sehari hanya untuk bekerja.
Saya pernah memiliki rekan kerja yang memilih mundur dari kantornya di Sudirman Jakarta. Dia –ayah dari dua putri– lalu bekerja di Bogor. Secara gaji, bukannya bertambah, gajinya malah berkurang. Penasaran, saya pun mencoba untuk mencari tahu alasan pastinya yang (sekilas) tampak seperti tak masuk akal itu.
Ternyata, dia ogah menghabiskan 5 sampai 6 jam per hari dalam perjalanan menuju tempat kerja. “Saya dulu masuk kerja jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore. Memang waktu kerjanya cuma 8 jam setiap harinya (istirahat 1 jam saat makan siang). Tapi, jam 5 pagi saya harus sudah berangkat dan jam 8 malam baru sampai rumah. Setiap minggu, total waktu perjalanan untuk PP Jakarta–Bogor memakan sekitar 30 jam. Bukan waktu yang sebentar kan? Hanya beda 10 jam dari waktu kerja selama 40 jam,” urainya panjang lebar. Tambahnya lagi, “Enggak tertarik deh untuk tua di jalan.”
Keputusan senior saya untuk pindah kerja ke Bogor –hanya berjarak 30 menit dari rumahnya– ternyata tepat. Dia dan istrinya sudah mempertimbangkan dengan matang dari jauh hari. Profesi sebagai pengajar bahasa asing di Bogor memang tidak memberikannya gaji sebesar kantor lamanya di Jakarta. Namun, kini dirinya malah memiliki 3 sumber penghasilan yang sama-sama menguntungkan! Lho, kok bisa?
Ini karena kini dia bisa lebih leluasa mengurus bisnisnya berupa biro jasa arsitek dengan rekan kuliah dan katering kue kering bersama isterinya. Pekerjaannya sebagai tutor Bahasa Inggris menawarkan waktu kerja yang fleksibel dan tidak menuntutnya untuk harus masuk kerja setiap hari dalam seminggu. Dia pun bisa setiap hari mengantar jemput kedua putrinya ke sekolah dan tempat les. Menyenangkan, bukan?
Bagi karyawan pria, jarak dan waktu menuju tempat kerja juga harus dipertimbangkan dengan cermat. Tinggal di sekitar kantor atau indekost dapat menjadi alternatif agar hemat waktu, biaya, dan tenaga setiap harinya. Kemudian optimalkan Jum’at sore hingga Senin pagi untuk dihabiskan bersama istri, buah hati, dan keluarga tercinta. Pilihan kompromistis itulah yang dilakukan seorang paman saya –ayah dari 3 orang anak– sejak 3 tahun terakhir ini karena ditugaskan bekerja di luar kota. Jadi, sebelum pindah kerja, pastikan dulu jarak menuju tempat kerja tidak menghabiskan seluruh sisa waktu hidup Anda ya.
Salam Kompasiana.