Ribut soal outsourcing selalu menarik. Buruh selalu berdemo menuntut dihapusnya outsourcing - katanya, menurut para buruh, sumber kekejaman perbudakan modern. Benarkah dengan dihapusnya outsourcing akan meningkatkan kesejahteraan buruh? Apa hakikat pekerjaan dan bekerja di alam kapitalisme dan industrialisasi di semua lini kehidupan yang sangat liberal?
Memang outsourcing menyengsarakan, tampaknya. Namun kenyataannya hampir semua industri dan perusahaan memekerjakan pekerja seperti security, petugas kebersihan, petugas parker, dan banyak pekerjaan lainnya sebagai tenaga kerja mereka. Para karyawan itu bekerja dengan dikoordinir oleh para pemilik mereka - perusahaan outsourcing selalu melakukan KKN dengan manajemen perusahaan pemakai jasa outsourcing. Para pekerja outsourcing menjadi sapi perah para pemilik perusahaan outsourcing. Para memilik perusahaan outsourcing memerah tenaga, pikiran para pekerja - sama dengan kisah perbudakan.
Alkisah, pada zaman dahulu, perbudakan adalah hal yang legal. Bahkan para budak pun rela menjalani sebagai budak. Budak adalah peristiwa kehidupan. Menjadi budak bukanlah aib dalam budaya dan peradaban manusia - yang baru dihapus pada abad ke-19. Sejarah tentang perbudakan bukanlah sejarah gelap kemanusiaan. Peradaban manusia di Mesir, Arab, Amerika, Roma, Eropa, China, Jepang, India dan Nusantara Kuno pun dibangun dalam semangat dan sendi perbudakan.
Para buduk diperdagangkan di pasar budak dengan harga yang ditentukan. Budak yang kuat dan kekar, atau budak yang cantik, memiliki harga yang berbeda-beda. Pada zaman itu, para budak tersebut menikmati kehidupan mereka sebagai budak. Para budak diberi makan, seperti pembantu rumah tangga yang diberi makan. Hanya makanan yang diberikan kepada para budak. Maka pada zaman revolusi industry ketika kapitalisme mulai melanda dunia akibat revolusi Industri di Inggris pada abad ke-18, maka sejak saat itu para budak semakin dibutuhkan.
Jika pada zaman sebelumnya para budak diperbudak di rumah dan lingkungan domestik dan rumah tangga, maka pada masa industrialisasi para budak diperjualkan antar negara. Itulah kisah kenapa di Benua Amerika, Eropa, orang kulit hitam dan berwarna hidup. Itulah sebabnya di Suriname banyak orang suku Jawa hidup di sana.
Industri membutuhkan banyak budak - jalan kereta api di banyak negara dibangun karena perbudakan. Celakanya karena para budak itu dipekerjakan di perkebunan - tentu tanpa gaji - hidup di bawah manajemen perbudakan. Perasaan sebagai manusia bebas - karena para budak itu manusia yang melihat bahwa para tuan mereka juga manusia, akhirnya berpikir menuntut banyak hal, terutama masalah makan dan makan. Setelah kebutuhan makanan, para budak pun menuntut kebutuhan lain yakni kebutuhan seks, menikah, dan memiliki anak - selama itu para budak dikawinkan dan anak para budak menjadi milik tuannya, pemiliknya. Para budak tak memiliki hak sama sekali terhadap anak mereka.
Zaman berganti. Kesadaran akan makna diri sebagai manusia muncul. Maka budak dibebaskan, namun para budak tetap membutuhkan pekerjaan, maka industry menyesuaikan dan para budak itu dipekerjakan dengan manajemen tetap perbudakan - para budak hidup hanya untuk kebutuhan makan saja dengan kelebihan hidup di rumah masing-masing dan tanpa adanya kekerasan fisik. Namun, hakikat sebagai budak tetap mengikat seperti para pekerja (budak) itu harus datang tepat waktu - persis seperti ketika menjadi budak harus bangun dan bekerja dan tidur dan makan. Pekerja (budak) diperintah mengerjakan pekerjaan rutin - sama dengan zaman perbudakan budak disuruh mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja. Hingga pada masa ketika budak harus mundur dari perbudakan atau dibiarkan mati karena sudah tidak kuat bekerja - sama dengan perbudakan modern yang membatasi pekerja pada usia 55,60 sebagai usia pensiun.
Nah, pada zaman modern ini, zaman liberalisme dan industrialisasi, hampir semua manusia hidup dan mengalami perbudakan modern. Para pekerja itu diberi makan, perumahan - atau tempat tinggal, ‘kebebasan' hidup, tidak dipaksa bekerja. Namun sesungguhnya hakikat dan spirit perbudakan masih diterapkan: para pekerja (baca: budak) itu diatur dan diperintahkan untuk ‘datang, bekerja' sesuai dengan arahan ‘majikan' mereka.
Kalau pada zaman perbudakan lama para budak diancam secara fisik dengan cambuk, maka cambuk bagi para pekerja (baca: budak) modern berwujud peraturan perusahaan. Peraturan perusahaan membuat para pekerja tertekan - sifat asli perbudakan adalah menjajah, membatasi, memaksa, dan menyiksa. Tekanan psikologis itu terwujud sampai para pekerja (baca: budak) ketakutan mendapatkan SP I, II, III jika terlambat atau salah dalam bekerja.
Tentang kesejahteraan, bukan hanya pekerja outsourcing, non-outsourcing pun memiliki dan mengalami sifat hereditas sebagai budak - ingat dalam semua budaya rakyat itu disebut subject dalam negara kerajaan. Raja, kerabat raja, para tentara memiliki wewenang menguasai rakyat - dan sebagian mengabdi pada raja tanpa bayaran; di Kerajaan Jogjakarta banyak abdi dalem yang tak dibayar da nada yang cuma dibayar Rp 7,500 per bulan nanum rela.
Itu salah satu bukti sifat asli manusia yang darah DNA mereka memang mengandung sifat dan rasa sebagai budak. Tak terasa sifat sebagai budak itu masih merasuk dalam jiwa dan merasuki manusia modern yang katanya bebas dan memiliki HAM. Kini, manusia modern sebenarnya terjebak dalam kehidupan perbudakan modern. Hidup para pekerja zaman modern ini sama dengan kehidupan para budak di zaman lampau. Bedanya, budak zaman dulu dibatasi fisiknya; budak zaman sekarang dibebaskan namun jiwanya dibatasi dengan aneka aturan, fasilitas, kemudahan, yang sesungguhnya hanya menjadi imbalan kecil dibandingkan dengan ‘penghasilan dan kekayaan' para majikan atau pemilik perusahaan.