Bagian (6) : Daun-Daun Takdir
Aku mengangkat koperku masuk ke dalam bagasi bis. Ku kecup jemari Bapak dan Ibu. Liburan semester telah usai. Aku harus kembali kuliah. Tinggal satu semester lagi aku melangkah.
Ibu memelukku erat, berpesan agar menjaga kesehatan dan segera berkirim surat setibanya di Jakarta. Aku mengangguk, airmataku mengalir. Duh ibu, belum lagi aku berangkat. Rinduku padamu sudah terbit.
Bis menebas jalanan, perjalanan juang harus aku tuntaskan. Di dalam bis, mataku terpejam. Tapi tidak hatiku, bayang mas Tio masih terus mengikutiku.
Pagar besi berwarna putih kubuka perlahan, deritnya membuat sesosok laki-laki di teras bergegas bangun. Mas Aldi.
Senyumnya mengembang, bergegas di jemputnya koper yang ku jinjing.
“Sini biar aku yang bawa sampai ke kamarmu, Laras pasti lelah“, Mas Aldi tersenyum penuh rindu membuatku jengah.
“Engga usah mas, biar aku sendiri. Insya Allah masih kuat“, aku menjawab, menolak halus pertolongannya.
“Kamu lama sekali liburan di kampung, aku kangen loh“, Mas Aldi berucap tanpa basa-basi.
Hatiku disergap rasa tak nyaman, ingin segera buru-buru menghilang. Aku semakin merasa takut, melihat sikapnya yang semakin nekat dan keras kepala.
Sesopan mungkin aku menolak bantuannya, bergegas pamit dengan alasan gerah, ingin membersihkan badan.
Mas Aldi memandang kecewa. Aku tak perduli, aku harus setia. Mas Seto pilihan Bapak, calon suamiku. Aku harus belajar mencintainya.
Tanggal pernikahan sudah ditentukan, seminggu setelah aku wisuda. Kurang lebih setahun lagi kami akan resmi mengikat janji. Hatiku sudah terlanjur pasrah, jadi kuikuti saja kemauan Bapak dan Ibu.
****
Mbak Menur bergegas ke kamarku, begitu tahu aku sudah pulang. Berbagai macam oleh-oleh yang aku siapkan untuk teman-teman kost segera kuedarkan.
Tak luput Bu Roro juga aku kirimkan. Ibu sudah membungkuskan khusus untuk beliau. Tanda berterima kasih karena sudah menjagaku.
Mbak Menur menuntut cerita tentang perjodohanku dan Mas Seto. Dengan gamblang aku bercerita.
Kepada mbak Menur kutuangkan semua perasaanku. Mbak Menur menggenggam jemariku, mengalirkan kekuatan agar aku tegar.
Aku juga meminta agar sudilah kiranya membantuku mencari tempat kost baru. Aku tak nyaman dengan Mas Aldi, keluhku. Aku ingin pindah, keputusanku bulat.
Sejujurnya aku masih sangat kerasan di sini. Namun Mas Aldi sangat mengganggu dan membuatku semakin tak nyaman.
Mbak Menur yang memahami kondisiku mengangguk. Seminggu kemudian kami berdua menyambangi tempat kost baru. Letaknya cukup jauh dari Salemba, tapi biarlah aku harus segera pindah.
****
Dengan berbagai alasan yang kubuat-buat, Aku pamit kepada Bu Roro. Tersirat kesedihan di mata wanita anggun tersebut.
Aku sengaja memilih pindah pada hari kerja, pukul 10,00 pagi. Mas Aldi tentunya sudah berangkat kerja. Aku tak ingin dia tahu, lalu mengejarku di tempat kost yang baru. Rencanaku bisa sia-sia.
Mbak Menur menunggu di ujung jalan, aku pura-pura pindah sendiri tak dibantu Mbak Menur. Alasan logisnya, jika mbak Menur ketahuan membantuku, tak ayal ia yang akan diinterogasi mas Aldi.
Alhamdulillah, kepindahan kostku berjalan lancar. Aku memeluk mbak Menur erat. Berterima kasih atas semua bantuannya.
Matanya sembab, jujur ia merasa sangat kehilangan. Tak ada lagi teman dekatnya di kostan. Tapi ia paham keputusanku memang yang terbaik.
Bapak dan ibu kukabari tentang kepindahan kostku, aku beralasan biaya kostnya naik. Sementara di tingkat terakhir aku butuh biaya kuliah yang tidak sedikit.
Kembali ditimbuni tugas-tugasnya semakin menumpuk. Skripsi yang menghabiskan pikiran, tenaga dan waktu. Membuatku sedikit melupakan bayangan mas Tito, bayangan tersebut semakin kabur. Tapi tidak hatiku, cinta itu masih penuh. Masih memenuhi lipatannya.
Bastian banyak membantuku saat skripsi dan praktikum. Perhatiannya intens khusus di berikan untukku. Namun, hatiku tak bergeming sedikitpun.
Alhamdulillah, skripsiku berjalan lancar. Tinggal menunggu pengumuman. Hari-hariku cukup senggang. Aku banyak menghabiskan waktu bersama Bastian. Ke toko buku, ke pameran kesehatan ataupun seminar-seminar kesehatan.
Aku hanya menganggap Bastian teman tak lebih. Dan Bastian pun seperti memahami kekerasan hatiku. Ia terus bersabar, tak berkurang sedikitpun perhatiannya.
Dua minggu sebelum pengumuman, sebuah surat dari Bapak memintaku lekas pulang kampung. Ada hal penting yang ingin Bapak sampaikan.
Bapak tak menyampaikan sepenting apa berita yang in gin di sampaikan padaku di suratnya. Ia hanya meminta aku segera pulang.
Tiba di rumah segera aku mencium tangan Bapak dan Ibu. Aku selalu kangen rumah. Kangen masakan Ibu.
Aku segera membersihkan badan, bersantap makanan yang di masak Ibu. Ngobrol bersama Ibu, membantu Ibu memotongi daun-daun mawarnya yang kering.
Sudah lama aku tak sesantai ini. Tumpukan tugas yang bertubi-tubi menyita waktu yang bergulir.
Tak lama Bapak memanggilku di ruang makan. Kulihat mata Bapak menyiratkan duka yang dalam.
“Rene cah Ayu, Bapak mau ngomong sesuatu yang penting buat masa depanmu“, Bapak terlihat kuyu, matanya menyimpan sendu.
“Nggih pak, Laras siap mendengarkan apa pun“ Aku bertanya-tanya, menyimpan rasa penasaran.
Bapak menarik nafasnya berat, seperti melepas beban berton – ton. Diteguknya teh manis dalam gelas besar yang biasa Bapak minum.
“Nduk, mas Seto membatalkan rencana pernikahan kalian. Mas Seto memilih menikah dengan pacarnya yang dulu“, Bapak berkata sembari menahan amarah.
Bless, seperti ada beban yang terbang dari pundakku. Hatiku seolah lepas oleh batu-batu berat yang menghimpit.
Aku menahan diri untuk tidak berteriak girang di hadapan Bapak. Aku tak tega melukai Bapak.
“Nggih Bapak, mboten nopo-nopo Pak. Mungkin memang belum jodoh“, Aku berpura-pura tabah. Padahal hatiku lega luar biasa.
Bapak tersenyum parau, jelas tergambar kekecewaan yang pekat di wajah tuanya. Aku jatuh kasihan, tapi di satu sisi aku memang tak berharap perjodohan ini.
Tuhan
Maha mendengar doa kita
Disatu sisi Ia memberikan cobaan
Di pintu harapan
Ia memberikan kuncinya
Tugas kita hanyalah berdoa
Berusaha
Tanpa lelah
***
Seminggu aku bersantai-santai di rumah. Menikmati waktu bersama Ibu. Menunggu pengumuman kelulusan.
Sudah saatnya aku harus pulang kembali ke kostan. Seminggu lagi pengumuman kelululusan. Aku berharap tidak ada halangan, bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Bapak dan Ibu tidak mengantarku ke terminal. Bapak sedang tidak sehat. Sepertinya Bapak sedikit tertekan dengan gagalnya perjodohanku.
Aku memilih diantar ojek untuk sampai di terminal. Beberapa bis besar antarpulau Jawa keluar masuk melalui gerbang utama.
Menunggu hampir satu jam setengah, bis yang akan membawaku kembali ke Jakarta baru datang. Bergegas tas-tas dan bawaan penumpang diletakkan di bagasi. Sejam kemudian bis membawa semua penumpang melaju.
Jarum jam menggelinding, beberapa penumpang sudah mulai mendengkur. Mataku masih nyalang, kantuk belum mau datang.
Pikiranku mengembara, merangkai langkah apa lagi yang harus kulakukuan. Aku harus fokus dengan tujuan, harapan dan cita-citaku. Aku hanya ingin membahagiakan Bapak dan Ibu.
Menunggu pengumuman ternyata sangat menyiksa. Rasa cemas, risau dan takut berjubel-jubel memenuhi perasaanku.
Untung Bastian banyak mengalihkan kecemasanku. Bastian sering mengajakku berburu buku-buku bekas di Kwitang. Sedilit banyak kecemasanku terobati.
Hari yang di tunggu tiba. Pagi-pagi aku sudah bersiap dari kostan. Perjalanan menuju kampusku terasa lebih lama. Angkutan yang kutumpangi berjalan pelan seperti kura-kura. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
Ternyata di depan papan pengumuman Fakultas Kedokteran sudah banyak berkumpul mahasiswa. Mereka bertujuan sama denganku. Melihat pengumuman kelulusan.
Aku berusaha menembus keramaian . Desakan orang-orang di depan papan penguman tak berkurang.
Tiba-tiba seseorang mendorong tubuhku. Brug, aku limbung dan … ! Sebuah tangan kekar menahanku. Bastian!
“Laras, kamu ga pa pa?“ kecemasan menguasai wajah bastian.
“Engga Bas, ga pa pa“, Aku menahan lututku yang sedikit ngilu.
“Sudah kamu duduk di sana saja Ras, istirahat. Biar aku yang lihat pengumumannya”.
Aku tersenyum berterima kasih. Lututku ngilunya makin menjadi. Rupanya jatuhnya lumayan sakit, membentur tiang sanggah pengumuman.
Bastian bergegas menuju keruman orang-orang yang semakin berjubel. Kulihat tubuhnya meliuk lincah menerobos kerumunan orang-orang.
Setengah jam kemudian, dengan keringat yang membanjiri kemejanya. Bastian berlari-lari ke arahku.
Mukanya berseri, senyumnya seperti matahari. Sepertinya kabar baik yang dibawanya,
“Laras. Yes, kita berdua lulus“, teriaknya gembira. Tangannya di kepal.
“ Benar, Bas… Alahamdulillah “ Hatiku lega luar biasa. Bongkahan kecemasanku mencair seketika.
“ Iya, benar. Hanya sayang empat orang angkatan kita harus mengulang “ Bastian terlihat agak murung.
“ Siapa saja yang mengulang? “ tanyaku penasaran dan turut prihatin.
“ Milah, Junaidi, Efan dan Rachma “ Bastian menghela nafas.
“ Semoga semester depan, mereka dapat menyelesaikan “ aku berguman. Turut mendoakan mereka.
“ Makan yuu, kita rayakan kelulusan kita “ Bastian tiba-tiba mengajukan ide.
“ Ayo, ajak teman yang lain. Biar seru “ aku jadi ikut bersemangat tertular semangat Bastian.
Bastian bergegas kembali ke tempat papan pengumman. Berbicara sebentar dengan beberapa teman.
Tak lama Bastian kembali. Aku, Bastian, Ratih, Rima, dan Bagas. Ya, hanya lima orang yang bisa berkumpul. Yang lain katanya langsung pulang mengabari kelulusan kepada orang tuannya.
Rupanya hari ini kabar gembira sedang merekah di mana-mana. Jadilah kami berlima yang bisa berkumpul.
Kami memilih makan mie ayam di seputaran Salemba. Mencoba mereka-reka di rumah sakit mana kami akan melakukan coast.
“ Laras, apa kabar ? “ sebuah suara mengagetkanku.
Aku menoleh dan terkesima, Mas Aldi. Matanya berbinar gembira. Kegugupan langsung menyerangku.
“ Eh, ehmm mas Aldi, kabar baik “ aku berusaha mengeyahkan ketakutanku.
“ Laras jahat yaa, pindah kost ga bilang-bilang. Aku tanya Menur. Menur juga bilang ga tahu. Ko pindah sih ? “ Mas Aldi mengucapkan kata-kata sederas mungkin.
“ Ehm, anu …itu” duh aku tidak siap atas pertanyaan yang di ajukan Mas Aldi.
“ Ehm, Laras pindah atas permintaanku mas. Orang tuanya meminta aku menjaganya “ Bastian berdiri dan tiba-tiba menjawab.
Mas Aldi memandang Bastian tajam, bastian melemparkan senyum tulus. Tangannya terulur membuka salaam.
“ Aku Bastian, ini siapa yaa ? “ Bastian tersenyum.
“ Renaldi, panggil saja Aldi. Teman Laras waktu di kostan dulu “ mas Aldi terlihat kecut mukanya.
“ Gabung yuu mas Aldi, kebetulan kita lagi merayakan kelulusan “ Bastian menawarkan ajakan makan bersama sembari melemparkan senyum ramah.
“ Terima kasih, kapan-kapan saja. Aku masih memiliki beberapa tugas yang harus diselesaikan “ Mas Aldi tersenyum.
“ Laras aku duluan yaa, kapan-kapan main ke kostan lama yaa “ mas Aldi buru-buru pamit.
“ Insya Allah, salam buat Bu Roro yaa mas “ aku menjawab dan tersenyum.
Bergegas mas Aldi pamit setelah melemparkan senyum ke semua teman-temanku.
Hatiku langsung berdesir lega. Huff, untung ada Bastian. Aku melemparkan senyum berterima kasih, Bastian hanya mengedipkan mata.
****
Pukul dua kami bubar, yang lain berpencar ke tempat yang lain. Hanya aku berdua Bastian yang bersamaan arah pulangnya.
“ Bas, terima kasih yaa.. “ aku tiba-tiba berkata. Aku belum mengucapkan terima kasih atas pertolongan spontannya.
“ Makasih apa nih ? “ Bastian menjawab sembari mengulum senyumnya.
“ Ehm, tadi secara tak sengaja kau menyelamatkanku “ mukaku memerah, enggan membahasa mas Aldi.
“ Hahaha..Laras, Laras. Lihat mukamu yang panik, tanpa kau meminta bantuanku aku tahu ko..” Bastian tertawa renyah.
Aku hanya menunduk, kuakui aku tipe panikan. Terkadang tak pandai menyimpan perasaan.
“ Heran, kamu serba tahu, Kaya dukun “ aku tertawa mencoba membayangkan Bastian berpenampilan dukun.
Mendadak Bastian menghentikan langkahnya. Aku jadi ikut berhenti, khawatir bastian marah karena aku mencandainya dukun.
“Laras, kau tahu mengapa aku selalu ingin melindungimu?“, Bastian menatap mataku dalam-dalam.
Aku menggeleng, lalu menunduk. Aku tahu sebetulnya, tapi aku tak mau tahu dan tak ingin sekalipun memberi pintu untuk Bastian.
“Karena aku mencintaimu“, ucapnya tegas sambil ditatapnya mataku.
Aku hanya diam dan menghela nafas. Membuang pandanganku ke samping.
“Aku belum siap dicintai, aku ingin berkonsentrasi terhadap cita-citaku”, suaraku mantap sekaligus balik memandang mata Bastian.
Entah kekuatan darimana, aku menjawab lugas dan tegas akan tawaran manis Bastian.
Bastian menghela nafas berat lalu melemparkan senyum tulusnya.
“Baiklah, kau benar Laras. Hari-hari kita masih panjang. Ada satu setengah tahun lagi yang harus kita lalui agar gelar dokter resmi di tangan kita. Kau benar“, Bastian tersenyum.
Kami berpisah menaiki angkutan yang berbeda. Bastian melambaikan tangan dan tersenyum ceria. Hati-hati teriaknya sebelum lenyap di tikungan.
Senja menapaki lereng langit. Binar jingga berpendar, mengantar burung-burung pulang ke sarangnya. Esok, lusa dan seterusnya aku mungkin harus berjuang melupakanmu.
Tuhan melukis kisah
Untuk setiap anak Adam dan Hawa
Setiap kisahnya
Memiliki cerita berbeda
Pun aku….
Jika kisahku dan dirimu
Tak bersatu
Aku hanya meminta satu saja
Tuhan pertemukan aku
Suatu saat nanti
…………………..………oooo………………………………
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI