Program asistensi mengajar di satuan pendidikan merupakan salah satu program kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang dilaksanakan Universitas Negeri Malang.Â
Asistensi mengajar adalah aktivitas mahasiswa yang dilakukan secara kolaboratif dengan guru/fasilitator di berbagai satuan pendidikan.Â
Tujuan dari terlaksananya porgram asistensi mengajar di satuan pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa dalam bidang pendidikan untuk turut seta membelajarkan dan memperdalam ilmunya dengan cara menjadi guru/fasilitator di satuan pendidikan yang tersebar di masyarakat serta membantu meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan dan relevansi pendidikan dasar atau menengah dengan pendidikan tinggi sesuai perkembangan IPTEKS. Program inilah yang menjadi pengalaman baru bagi seorang mahasiswa bernama Nimas Ade Dyah Ratnasari.
Tak pernah terbanyangkan sebelumnya, gadis bernama Nimas Ade Dyah Ratnasari akan menjadi seorang guru. Menjadi pusat perhatian di depan kelas adalah salah satu hal yang ia benci. Namun, di program Asistensi Mengajar ini, ia dituntut untuk menjadi pusat perhatian. Gadis yang akrab dipanggil Ade ini memilih program Asistensi Mengajar tepat disemester enamnya.Â
Menentukan sekolah mana yang akan menjadi tempatnya mengabdi merupakan hal yang sulit. Dengan berbagai petimbangan, pilihan jatuh di SMK Negeri 8 Malang. Sekolah yang terletak di Jalan Teluk Pacitan, Arjosari, membuat dirinya memiliki pengalaman yang tak terlupakan. Sekolah yang menjadi tempat dimana ia merasakan petualangan baru dalam hidupnya.
Merasa gugup saat pertama kali memasuki kelas tak bisa disangkal begitu saja. Semua mata tertuju pada gadis berkacamata yang tersenyum kikuk menahan rasa bingung, malu, dan takut yang menyelimuti.Â
Pikiran tentang ia akan dianggap remeh karena terlalu muda untuk menjadi guru dan dipanggil dengan sebutan "Ibu" tentu bersarang dengan lekat di kepalanya. Semua itu berusaha ia tutupi dengan baik agar tak seorang pun tahu bahwa dirinya merasa takut untuk gagal.
Dahulu, dirinya berpikir bahwa menjadi guru hanyalah menyampaikan materi di depan kelas hingga jam pelajaran usai. Namun, setelah mengabdi selama kurang lebih lima bulan di sekolah Asta Arkananta, atau lebih sering disebut SMK Negeri 8 Malang, pikiran tersebut lenyap begitu saja.Â
Menjadi guru tak melulu soal berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi, tetapi juga mengesampingkan ego dan tetap sabar menghadapi beberapa kepala yang tak bisa dikontrol.Â
Sabar adalah salah satu kunci penting untuk menjadi guru. Bentakan tak bisa keluar begitu saja dari mulut dan tersenyum adalah sebuah kewajiban saat berada di dalam kelas.Â
Mendapatkan murid yang penurut, pendiam, dan selalu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, persis seperti teman-temannya semasa sekolah dulu adalah pikiran sederhana yang ada di kepala. Namun, mengajar di kelas XI RPL A dan XI RPL C membuatnya berpikir bahwa tak semua murid sama.Â
Tidur di kelas, bermain handphone, mendengarkan musik, dan bolak-balik izin ke kamar mandi sudah menjadi rutinitas yang dirinya lihat tiap kali ia mengajar. Namun, kondisi inilah yang memberikan tantangan tersendiri bagi dirinya selaku guru.Â
Berpikir bagaimana caranya belajar yang sesuai dengan keinginan mereka, tetapi tujuan pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik. Kedekatan emosial antara guru dengan murid ternyata juga memiliki peran tersendiri dalam kegiatan pembelajaran.
Pengalaman pertama menjadi guru membuatnya merasa campur aduk. Berharap akan anak didiknya dapat mengerjakan semua tugas dan ulangan harian yang diberikan, yang menjadi bahan untuk mengetahui seberapa paham mereka akan materi yang telah disampaikan, tak berjalan mulus. Itulah kali pertama dirinya merasa gagal dalam mengajar. Itulah sebab munculnya pertanyaan "Apakah bisa menjadi guru yang baik?" selalu terputar di kepala bak kaset rusak yang terus-menerus berputar.Â
Keraguan akan kemampuannya tak pernah absen untuk mengganggu hari-harinya. Namun, dirinya tersadar akan satu kalimat "setidaknya kamu sudah berusaha yang terbaik."Â
Kalimat itu yang menjadi tamparan bahwa tak semuanya berjalan mulus sesuai yang diharapkan. Adakalanya merasa gagal dan kecewa, tetapi tak apa selagi sudah berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkannya. Gagal dan kecewa bukanlah tembok besar yang menjadi penghalang untuk berhenti melangkah.
Sekali lagi, menjadi guru tak pernah terlintas di kepala. Namun, sapaan "Bu Ade" di setiap kali berjumpa dengan murid membuat dirinya tersadar bahwa kini ia sedang menjalani peran sebagai guru.Â
Akan tertulis dengan rapi di buku hariannya tentang bagaimana rasanya ketika menjadi guru di SMK Negeri 8 Malang, tentang bagaimana caranya mengontrol rasa gugup dan takut akan kegagalan, tentang bagaimana kecewanya ia kepada dirinya sendiri ketika murid yang ia ajar gagal mengerjakan tugas, tentang bagaimana bahagianya ia ketika sapaan "Bu Ade" terus terdengar sepanjang ia berjalan, dan tentang apa-apa yang ia rasakan di SMK Negeri 8 Malang. Terucap terima kasih dan maaf dari mulutnya untuk orang-orang yang memberinya kesempatan menjalani peran sebagai guru.
Kisah ini memang sebentar, tetapi akan terus ia kenang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H