Mohon tunggu...
Nilna Fadah
Nilna Fadah Mohon Tunggu... Mahasiswi

Iqra'

Selanjutnya

Tutup

Book Pilihan

Perempuan dalam "Tiga dalam Kayu": Kajian Feminisme

10 Desember 2024   02:42 Diperbarui: 10 Desember 2024   17:55 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tiga dalam Kayu (Sumber: pribadi)

Sebelum itu, dengan penuh harap, semoga para pembaca tulisan ini sudah terlebih dahulu membaca buku Tiga dalam Kayu milik Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie dan tidak mual setelah selesai membaca buku tersebut.

Tiga dalam Kayu, novel karya Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie, yang secara sengaja, menyajikan tema tentang bayang-bayang penderitaan perempuan dalam masyarakat patriarki. Penulis seperti mendapatkan ide dari kisah-kisah lama tentang perjuangan para perempuan yang hingga kini (masih) menyuarakan perlawanan terhadap tradisi yang menindas dan menjerat. Melalui pandangan tokoh utama yang merupakan seorang laki-laki yang bekerja sebagai jasa pemindah barang-barang. Pada suatu hari, laki-laki tersebut sengaja bangun lebih pagi untuk berjalan-jalan sebelum berangkat bekerja. Tak disangka laki-laki tersebut menemukan sebuah perpustakaan yang mempertemukannya dengan seorang gadis berusia 15 tahun pemilik perpustakaan, dan membuatnya membaca 11 buku yang memuat kisah-kisah masa lalu kelam yang sering menimpa para perempuan.

Ziggy, sebagai penulis, tidak hanya menyajikan cerita-cerita ini sebagai untuk menjadi sebuah bacaan belaka, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran pembacanya tentang perjuangan perempuan dalam merebut hak-hak yang seharusnya mereka terima sebagai individu yang setara dan layak. Dengan gaya penulisan yang khas dan membuat pembacanya sering kali mual, melalui novel ini Ziggy secara tajam menggambarkan ironi ini, di mana kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai hal yang biasa dan sepele, dan di samping itu suara perempuan sering kali diabaikan. Dalam hal ini, novel ini berfungsi sebagai sentilan terhadap ketidakadilan yang mengabaikan hak-hak perempuan dan menekankan pentingnya perubahan stereotip masyarakat terhadap isu gender.

Sebelum itu, dalam bukunya yang berjudul The Second Sex, Simone de Beauvoir menjelaskan bahwa perempuan seringkali tidak dipandang sebagai suatu individu yang merdeka, yang dengan bebas menentukan keinginannya dan mengutarakan pendapatnya. Tetapi perempuan dianggap sebagai 'the other'. Perempuan dalam pandangan masyarakat patriarki ditempatkan sebagai objek, sementara laki-laki dianggap sebagai subjek utama. Dengan susah payah. Para perempuan memperjuangkan suara dan identitas mereka di tengah stigma dan stereotip yang melekat. Mereka digambarkan sebagai korban kekerasan dan penindasan, di mana kehidupan mereka ditentukan oleh keputusan kekuasaan laki-laki. 

Kini kita soroti pada bagian cerita tentang keputusan akhir pengadilan yang menganggap benar tindakan pembunuhan oleh tokoh laki-laki pada para korban perempuan, yang merupakan orang terdekatnya.  Secara tidak adil dan dengan entengnya mengatakan bahwa semuanya adalah tindakan yang salah. Apa yang terlihat? Sungguh, bukankah tergambar akan bagaimana sistem hukum sering kali gagal melindungi perempuan dari kekerasan dan penindasan. Tokoh perempuan dalam cerita buku tersebut, seolah sengaja dibungkam dan dihilangkan keberadaannya.

Dan sebuah plot twist yang mengejutkan yang mungkin belum disadari para pembacanya, sebelas buku yang dibaca oleh tokoh laki-laki dalam cerita tidak hanya menggambarkan pengalaman para tokoh perempuan, tetapi juga mencerminkan sejarah panjang tradisi diskriminasi terhadap perempuan yang telah ada sejak zaman dahulu. Ingat, buku-buku tersebut didapatkan dari hasil sumbangan milik kakek-kakek yang telah lama tiada dan diberikan secara gratis pada Gadis 15 tahun itu. Setiap buku menyajikan kisah-kisah tragis yang menunjukkan bagaimana perempuan selalu menjadi korban kekerasan, penindasan, dan ketidakadilan dalam berbagai bentuk. Ketika karakter-karakter ini berusaha mencari jalan keluar dari situasi sulit mereka, pembaca dihadapkan pada kenyataan bahwa meskipun zaman telah berubah, paradigma diskriminasi ini tetap ada dan terus berlanjut hingga saat ini. Entah itu kalangan atas, kalangan menengah, dan yang bawah sekalipun. Terbukti bukan?  Bahwa perjuangan perempuan melawan penindasan bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari narasi sejarah yang panjang dan kompleks.

Akhir kata, melalui kisah dalam buku ini semoga menjadi sebuah sentilan maupun dorongan bagi masyarakat untuk kembali bercermin, merenungkan dan mengevaluasi kembali norma-norma yang telah mengakar. Upaya tersebut tidak akan terjadi jika hanya satu pihak saja, tetapi merupakan tantangan yang memerlukan partisipasi aktif dari semua anggota masyarakat.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun