Mohon tunggu...
Ni Komang Lunga Dianti
Ni Komang Lunga Dianti Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Universitas Udayana

Saya senang memiliki berbagai ide dan mengimajinasikannya melalui tulisan

Selanjutnya

Tutup

Film

Film Penyalin Cahaya (Photocopier): Refleksi Realita Pelecehan Seksual dan Pengaruh Kekuasaan

8 Januari 2023   19:54 Diperbarui: 8 Januari 2023   19:59 752
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://www.instagram.com/penyalincahaya

Film Penyalin Cahaya merupakan film besutan sutradara Wregas Bhanuteja, berkisah tentang pelecehan seksual yang dialami mahasiswa di lingkungan kampusnya. Film yang mengambil tema tentang pelecehan seksual seringkali menjadi perhatian publik karena hal ini sehubungan dengan maraknya kasus pelecehan yang bayak menelan korban. 

Tidak hanya Film Penyalin Cahaya, adapula Film Marlina Si Pembunuh Empat Babak yang mengambil kisah pelecehan seksual yang juga berhasil meraup kesuksesan di tahun 2017. Hal ini menunjukkan antusiasme dan apresiasi terhadap film sebagai sarana edukasi dan informasi. Dengan demikian, bagaimana bisa kasus pelecehan seksual masih sering terjadi?

Film Penyalin Cahaya sukses memperlihatkan berbagai makna tersirat dalam alur cerita yang misterius tanpa menghilangkan nilai-nilai dan karakter tokohnya. Film ini mengisahkan penyelidikan dan penyitasan yang dilakukan oleh tokoh utama bernama Suryani (diperankan oleh Shenina Syawalita Cinnamon) merupakan seorang mahasiswi penerima beasiswa yang mengikuti klub teater di kampusnya. 

Di Indonesia, sudah banyak kasus pelecehan seksual yang berada di lingkungan kampus, bukan saja mahasiswa yang bertindak sebagai pelaku, bahkan dosen pun sering menjadi tersangka.

Bersama dengan temannya, Amin seorang tukang fotokopi yang diperankan oleh Ciccho Kurniawan mencoba menemukan pelaku pelecehan seksual. Film ini berhasil menjadikan objek sebagai judul dengan menonjolkan fungsi dan peran mesin fotokopi untuk menemukan titik terang pencaharian pelaku pelecehan seksual yang dialami Sur.

Selain itu, penyelidikan Sur berujung pada harapan semu yang diberikan pihak kampus atas dasar kerahasiaan pelaporan yang menjadikannya boomerang. 

Dengan kekuasan sang pelaku yang merupakan orang berpengaruh membuat Sur harus menelan kenyataan pahit dengan berdamai dan mengaku bersalah atas tuduhannya terhadap pelaku. Ini juga realita yang terjadi di lapangan, ketika korban mengaku dengan bukti bahwa haknya telah dilanggar justru memilih berdamai dengan negosiasi pemecahan masalah secara kekeluargaan yang disebabkan karena pelaku adalah orang yang memiliki kuasa. 

Oleh karena faktor tersebut, banyak korban yang enggan melaporkan kejadian memilukan yang dialaminya hanya akan membuat dirinya malu dan tidak mendapatkan keadilan seutuhnya.

Perlu disadari bahwa pelecehan seksual tidak hanya dialami oleh perempuan tetapi juga laki-laki. Pada film ini hal serupa dialami oleh tokoh Thariq diperankan oleh Jerome Kurnia yang merupakan teman dekat pelaku namun juga menjadi korban kejahatan seksual. Korban pelecehan seksual ucap kali dibungkam serta dilemahkan posisinya oleh pihak-pihak yang bersangkutan dengan kekuasaan yang pelaku miliki. 

Pada film ini pula terdapat adegan dimana para korban dibekap mulutnya, ditahan dan dibuat lemah oleh petugas (kaki tangan) yang keluar dari mobil penyemprotan nyamuk bersama pelaku yang langsung memusnahkan barang bukti yang dimilki korbannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun