Mohon tunggu...
Roneva Sihombing
Roneva Sihombing Mohon Tunggu... Guru - pendidik

Penyuka kopi, gerimis juga aroma tanah yang menyertainya. Email: nev.sihombing@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Jejak Rindu Sepanjang Hayat

25 Juli 2020   23:26 Diperbarui: 25 Juli 2020   23:19 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jejak Rindu (1)

Aku merindukan seseorang yang belum kumiliki

Aku merindukan kau, yang aku harapkan aku miliki..

Dimana kau?

Dimana kau sekarang?

Jejak Rindu (2)

Sampai kapan aku menatap telepon ini?

Telepon dengan angka-angka yang bisa diputar.

Seolah-olah aku menunggu telepon ini berdering...

...dan mendengar suaramu yang kurindukan.

Jejak Rindu (3)

Aku membuat banyak alasan untuk sulit tidurku akhir-akhir ini.

Insomnia, mengerjakan tugas, membaca, menulis jurnal,,,

Hingga, alasan yang tersisa adalah menunggu merekahnya bunga Wijayakusuma..

Tercium wangi bunga Wiku yang penuhi tengah malamku kemaren.

Wewangian yang sesekali datang.

Lalu, apa lagi alasanku untuk insomniaku besok, jika alasan sebenarnya adalah kau?

Jejak Rindu (4)

Aku melihat jauh melewati jendela kamar dan cakrawala....

..jauh melewati ufuk timur. Jauh.

Paduan langit putih kelabu dan dingin turun perlahan..

Sebentar lagi akan hujan.

Gerimis yang menguak rinduku padamu.

Jejak Rindu (5)

"Sudah gelas ke berapa?"

Pertanyaan sahabat memenuhi udara...

Pagi ini, kami menghabiskan sarapan yang terlambat

...di wisma sederhana setempat.

Di tengah dinginnya halimun pekat

...yang membuat keringat terhambat.

Satu jam lagi kami akan berangkat

...meninggalkan kenangan tak bersekat.

Segera aku membekukannya dalam banyak potret

...berharap kelak menetap tanpa berkarat.

"Sudah gelas ke berapa?"

Pertanyaan yang sama beberapa waktu kemudian.

Aku tersenyum lebar menawan.

"Yang ini, gelas ke-5.."

Menangkup cangkir kopi berwarna jingga.

Berbagi kecintaan pada pekatnya hitam kopi Toraja.

"Alangkah banyaknyaaa..."

Sahabat melanjutkan, "Sedangkan aku, baru gelas ke-2..."

"Iya.. Banyak.."

Jawabku sambil menatap kopiku, "Seperti gerimis, seperti dingin, seperti hujan..

... dan seperti rindu.." 

- catatan dari kotaku

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun