Anak saya tiga. Perempuan semua. Saya orang tua yang menyakini perintah agama mengenakan jilbab hingga menutupi dada hukumnya wajib. Â Karena itu, saya pun membiasakan anak-anak untuk memakai jilbab, setidaknya saat di sekolah.
Pembelajaran menggunakan jilbab ini saya  terapkan sejak anak-anak saya balita. Lalu saya lanjutkan ketika usia sekolah. Pembiasaan memakai jilbab ini agar nanti saat anak-anak dewasa sudah terbiasa memakai jilbab sebagai perintah agama.
Sekolah anak-anak saya sih tidak mewajibkan memakai jilbab. Boleh memakai, boleh tidak. Terserah. Tidak ada paksaan. TK, SD, SMP, SMA. Semuanya sekolah negeri, kecuali saat TK.
Dari pembiasaanya ini hasilnya memang berbeda-beda. Anak pertama saya sejak masuk SMA tidak mau lagi pakai jilbab. Meski selalu saya nasihati, sampai sekarang tetap belum mau pakai jilbab. Hatinya belum tergerak. Sedih sih.
Kalau anak kedua saya, Alhamdulillah pakai jilbab ke sekolah. Saat keluar rumah pun demikian. Sudah mulai paham bahwa aurat wajib ditutupi. Yaitu seluruh badan, kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
Begitu juga dengan anak ketiga saya. Ia akan pakai jilbab ke sekolah, tapi kalau main bersama teman-temannya di luar rumah dia belum mau pakai. Baru pakai ketika mengaji.
Anak pertama saya akan pakai jilbab jika ada pelajaran agama dan saat pakai seragam baju muslim. Ya kan lucu saja pakai baju muslim tapi tidak pakai kerudung atau jilbab. Baju muslim dan jilbab itu sudah satu paket. Melekat. Pakai jilbab juga saat di sekolah.
Setelah pelajaran agama selesai, anak saya melepas jilbabnya. Atau saat pulang, jilbabnya dilepas.
Sejauh ini, sekolah sepertinya biasa-biasa saja. Saya tidak mendengarkan ada keluhan dari anak saya kalau dipanggil guru BK terkait tidak pakai jilbab ini. Anak saya juga tidak cerita jika ia mendapat teguran mengenai hal ini.
Saya juga tidak mendapatkan "surat cinta" dari sekolah atas perilaku dan kebiasaan anak saya ini. Paling mengenai anak saya yang malas mengerjakan tugas-tugas sekolah.