"Metode ini sudah mulai diterapkan di rumah sakit PON dalam beberapa tahun ke belakang," terangnya.Â
Dikatakan, penanganan kasus aneurisma otak ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin. Melibatkan dokter bedah saraf, neurointervensionist, neurologist, intensivist, dan lain sebagainya.Â
"Diperlukan juga berbagai peralatan dan fasilitas penunjang yang memadai dan mutakhir agar kita dapat menangani kasus aneurisma otak dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik," lanjutnya.
Pemeriksaan penunjang diperlukan:
MRI, untuk mendeteksi ada tidaknya aneurisma otak. CT scan, untuk memastikan ada tidaknya perdarahan di otak akibat pecah atau bocornya aneurisma otak.
Selain itu, pemeriksaan angiografi otak, untuk memastikan ada tidaknya kelainan di pembuluh darah otak, termasuk mendeteksi aneurisma otak. Angiografi bisa dilakukan dengan CT scan (CTA) atau dengan MRI (MRA).
Keunggulan teknologi Cerebral Flow Diverter ini disebutkan prosedur yang relatif cepat, pasca-tindakan tidak perlu perawatan ICU. Selain itu, mengurangi lamanya rawat inap, lebih nyaman untuk pasien, dan tidak ada luka sayatan.
Sebelumnya, banyak pasien Indonesia mendapatkan penanganan aneurisma di sejumlah RS luar negeri. Terkini, Indonesia termasuk yang unggul dalam penanganan aneurisma, meski kasus yang ditangani masih "sedikit" dibanding negara lain, semisal Amerika Serikat.
Faktor Resiko dan Gejala
Dalam diskusi, dr. Abrar menjelaskan faktor risiko seseorang bisa mengalami aneurisma. Yaitu, hipertensi, usia di atas 40 tahun, merokok, faktor genetik (riwayat aneurisma dalam keluarga), marah berlebihan yang memicu stres, dan penyalahgunaan narkoba, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol berat.
Disebutkan pola makan tak sehat yakni tinggi kolesterol, kurang beristirahat dan obesitas juga menjadi faktor risiko masalah pembuluh darah ini.