Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Lainnya - ibu rumah tangga biasa dengan 3 dara cantik yang beranjak remaja
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, insyaallah tidak akan mengecewakan...

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Buktikan Aman dan Halal, Presiden Jokowi Jadi Orang Pertama Divaksin Covid-19

13 Januari 2021   12:31 Diperbarui: 13 Januari 2021   12:35 194
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hari ini, Rabu (13/1/2021), pukul 09.30 WIB Presiden Joko Widodo disuntik vaksin di Istana Negara. Televisi-televisi nasional menayangkannya secara langsung. Sambil mendampingi si kecil belajar dari rumah, saya pun turut menyaksikan proses pelaksanaan vaksinasi perdana tersebut di layar TVRI. 

Vaksinasi ini dilakukan oleh Tim Dokter Kepresidenan dan dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. 

Presiden menjadi orang pertama yang disuntik vaksin untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa vaksin Covid-19 Sinovac yang berasal dari China, aman dan halal. Setidaknya setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan demikian.

Terlebih vaksin itu telah melalui uji klinis yang tidak hanya sekali. Seperti yang diberitakan, BPOM telah mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin CoronaVac, Sinovac, pada Senin (11/1/2021). Efikasi vaksin tersebut 65,3 persen, lebih tinggi daripada ambang batas WHO yang mensyaratkan 50 persen.

Sebelum divaksin, Presiden yang mengenakan kemeja lengan pendek lengkap dengan masker, harus mendaftar dulu dan validasi data di meja nomor 1, lalu diperiksa kesehatan dengan memeriksa  tekanan darah dan cek suhu tubuhnya di meja nomor 2 sambil petugas memberikan edukasi mengenai vaksin Covid-19.

Karena dinyatakan normal, maka Presiden pun diperkenankan disuntik vaksin di meja 3. Petugas menunjukkan satu ampul vaksin yang disedot pakai suntik, lalu alat suntik yang mengandung cairan vaksin disuntikkan di lengan atas kiri.

"Bagaimana pak?" tanya Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Abdul Mutalhib, yang tangannya sempat gemetar saat menyuntikkan vaksin ke lengan Presiden.

"Enggak terasa sama sekali," jawab Jokowi sambil tertawa.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Setelah divaksin, Presiden diberikan sertifikat vaksin yang menyatakan sudah divaksin. Lalu Presiden diarahkan untuk menuju meja nomor 4. Di sini, Presiden menyerahkan sertifikat vaksin untuk distempel dan ditandatangani petugas.

Tim dokter kepresiden lalu memantau reaksi dari vaksin ini 30 menit setelah divaksin. Setelah 30 menit, tidak terlihat reaksi negatif. Terbukti, Presiden yang didampingi para menteri menyampaikan pernyataan pentingnya vaksinasi Covid-19.

Bagaimanapun, vaksin ini adalah senjata kita untuk memerangi melawan Covid-19. Vaksin diperlukan karena penyebaran virus Corona kian mengkhawatirkan dan ditambahkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19 -- memakai masker, menjaga jarak, dan sering mencuci tangan pakai sabun di air mengalir atau memakai hand sanitizer kian melemah.

Masyarakat kita banyak yang bandel. Berkerumun tanpa masker, keluar rumah tanpa memakai masker yang baik dan benar, menggelar hajatan dengan mengabaikan protokol kesehatan, tanpa menjaga jarak, sudah sering kita lihat. Seolah-olah Covid-19 hanyalah penyakit biasa.

Terbaru, lihat saja kasus Waterboom Cikarang, Kabupaten Bekasi, yang memunculkan kerumunan tanpa menggunakan masker, pada Minggu (10/1/2021). Entah apa yang ada di benak pengelola dan masyarakat di saat pandemi Covid-19 kian mengkhawatirkan, eh malah bikin kerumunan.

Meski sudah divaksin tetap kita harus menerapkan 3M. Untuk membunuh virus ini peran masyarakat sangat dibutuhkan. Karena butuh 70 persen penduduk Indonesia yang mau divaksin agar virus Corona terkurung.

Tak usah dipersoalkan mengapa Sinovac. Karena nyatanya Pemerintah membeli beragam jenis vaksin. Mulai dari produksi sendiri di Biofarma dengan vaksin Merah Putih, AztraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, dan Sinovac. Yang penting dapat bisa memenuhi sekitar 400 juta dosis mengingat vaksinasi ini harus 2 kali dilakukan.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Yang perlu diingat banyak negara yang berlomba-lomba memesan vaksin dari berbagai negara dengan tidak hanya satu merek saja. Itu karena pasokan vaksin terbatas sementara peminatnya banyak.

Nah, yang lebih dulu sampai duluan adalah Sinovac. Itu juga setelah pemerintah berjibaku dan bergerilya mencari vaksin Covid-19. Dan, akhirnya dapat. 

Dengan segala kondisi, dalam keterbatasan dana, pemerintah pun menggratiskan biaya vaksin ini alias ditanggung pemerintah alias masyarakat tidak dipungut biaya sepersen pun.

Pemerintah sudah penuh perjuangan untuk bersama melawan Covid-19 ini. Dari menggratiskan biaya RS, penguburan, bantuan dan sekarang vaksinasi.

Dengan ikut berperan serta dalam vaksinasi setidaknya kita melakukan hal yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri, keluarga, serta terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity). Selanjutnya ya disiplin menerapkan 3M, dan berdiam di rumah saja, ke luar rumah untuk urusan yang penting saja.

Tidak perlu khawatir. Presiden saja sudah divaksin menggunakan Sinovac. Masa iya Presiden mempertaruhkan nyawa, reputasi dan martabatnya untuk membohongi rakyat? 

Apa lagi setelah Presiden menyusul kepada kelompok prioritas seperti tenaga kesehatan, petugas publik, pejabat, dan seleb seperti Raffi Ahmad, Bunga Citra Lestari, dr Tirta, dan Najwa Shihab.

Apakah setelah divaksin terhindar dari Covid-19? Ya belum tentu, masih bisa terkena juga. Hanya saja gejala yang timbul jauh lebih ringan daripada yang tidak divaksin. Karena itu, setelah divaksin disiplin menerapkan protokol kesehatan tetap harus ditegakkan.

Kita dalam berperang melawan Covid-19 ini sebenarnya sudah cukup lebih mudah. Dibentengi dengan vaksin, menerapkan 3M, dan berdiam rumah. Kita tidak disuruh memanggul senjata lalu berperang melawan musuh di medan perang seperti para pendahulu kita.

Kalau masih ragu juga coba cari informasi yang lebih valid. Jangan hanya sekedar katanya-katanya yang itu juga berseliweran dari group WA. Carilah informasi kepada sumber yang valid, ke dokter ahli. Jangan berdasarkan informasi dari sosial media.

Ini tidak beda jauh ketika kita divaksin saat balita dan SD, atau vaksin influenza, HPV, meningitis. Saya waktu vaksin meningitis baik-baik saja. Kalian juga baik-baik saja kan?

Bagaimana, sudah siap kan divaksin? Tinggal disimak saja SMS pemberitahuan kapan kita divaksin. Kalau kita ikut berpartisipasi melawan Covid-19, Insyaallah virus Corona akan terhempas dari bumi Indonesia, juga dunia.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun