Suatu sore saat saya berkumpul bersama anak-anak -- Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra. Duduk di teras sambil memandang ikan-ikan yang berenang di akuarium.
Gemericik air saling bersahutan dengan denting rintik hujan yang  jatuh di atas atap. Dari kemarin hujan tak jua kunjung berhenti. Senja pun berselimutkan dingin.
Saya meminta anak-anak untuk bercerita sedikit tentang saya, bundanya. Apa yang bisa anak-anak kisahkan tentang ibunya sedari kecil yang mereka ingat. Apa yang sudah dipelajari dari seorang ibu seperti saya.
"Kakak Putik, Kakak Najmu, Adelia, coba ceritakan tentang Bunda," kata saya sambil menyisir rambut si kecil.
"Bunda adalah yang mengajarkan Kakak menulis, membaca, dan berhitung. Bunda juga selalu mendongeng waktu Kakak masih kecil, mengajarkan Kakak untuk nggak jadi orang penakut," kata Putik Cinta Khairunnisa, anak pertama saya, yang biasa saya panggil Putik.
"Bunda orangnya pintar, pandai masak, pintar bikin puisi, pintar mendongeng, pintar menulis, pekerja keras. Tempat aku bertanya banyak hal. Bunda juga orangnya cantik," timpal Annajmutsaqib, anak kedua saya yang biasa saya panggil Najmu. Ia tertawa lepas.
"Kalau ade bagaimana?" tanya saya pada si kecil, Fattaliyati Dhikra, yang biasa dipanggil Aliya. Eninnya, yang tak lain ibu saya memanggilnya Adelia, singkatan dari Ade Aliya.
"Bunda orangnya baik, suka ingetin aku buat solat, suka menghibur aku kalo lagi sedih, merawat aku kalo lagi sakit. Jadi guru aku yang ngajarin aku tugas-tugas sekolah, dampingin aku, kadang galak juga sih," katanya sambil nyengir.
"Itu sih bukan galak, tapi tegas," kata saya seraya tertawa.
Kalau dirunut berarti saya sebagai perawat, seorang koki, pelindung, motivator keluarga, sahabat, psikolog, penjaga, pendidik.
Apakah anak-anak ingat sejatinya saya sudah mengajarkannya banyak hal, mulai saat dalam kandungan?