Mohon tunggu...
Nasrul Azwar
Nasrul Azwar Mohon Tunggu... Editor - Jurnalis

Laki-laki

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mahjoedin Datoek Sutan Maharadja, Bapak Pers Indonesia

6 Januari 2021   18:00 Diperbarui: 6 Januari 2021   18:02 226
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Mahjoeddin Datoek Soetan Maharadja adalah salah satu perintis pers Indonesia dan pantas disebut Bapak Pers Indonesia. Ia banyak mendirikan dan menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia. 

Pada akhir abad ke-19, dia memimpin dua surat kabar berbahasa Indonesia, yaitu Pelita Ketjil (didirikan pada 1 Februari 1886) dan Tjahaja Soematra (1897). 

Pada tahun 1901, Mahjoedin menerbitkan dan memimpin surat kabar Warta Berita. Surat kabar ini merupakan salah satu surat kabar pertama di Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia, dipimpin, dan dicetak oleh orang Indonesia.

Pada tahun 1910 dia menerbitkan dan menjadi pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe di Padang. Dalam surat kabar tersebut tertera : "Achbar ini ditjitak pada pertjitakan orang Minangkabau". 

Melalui kalimat ini, ia ingin menunjukkan kemampuan suku bangsa Minangkabau dalam menguasai usaha surat kabar dan percetakan, yang ketika itu banyak dijalankan oleh orang-orang Belanda dan Cina. Pada tahun 1911, bersama Rohana Kudus, dia menerbitkan koran perempuan Soenting Melajoe.

Mahjoeddin dilahirkan di Sulit Air, Solok, pada 27 November 1862, dengan nama kecil Mahjoedin. Belum banyak diungkap mengenai pendidikan tokoh ini. Namun yang jelas, sebagai keturunan bangsawan adat, ia kemudian menyandang gelar penghulu dari kaumnya: Datoek Soetan Maharadja.

Perjalanan kariernya dimulai sebagai abdi pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan menjadi magang jaksa di Padang pada 1876. Tiga tahun kemudian, ia memangku posisi sebagai juru tulis atau kerani di kantor jaksa di Padang. 

Pada 1882, kariernya mulai menapak naik sebagai ajun jaksa di Indrapura. Setahun di sini, ia promosi menjadi ajun jaksa kepala di Padang. Lima tahun kemudian, ia dipindahtugaskan sebagai jaksa di Pariaman.

Datoek Soetan Maharadja memutuskan berhenti dari jabatan di lingkungan pemerintahan kolonial pada tahun 1892, lalu banting stir ke  bidang jurnalistik dan organisasi pergerakan. 

Ia kembali ke Padang untuk menekuni profesi barunya sebagai wartawan.  Mulanya dia bekerja untuk suratkabar Palita Ketjil sebagai editor yang berlanjut ketika koran ini berganti nama menjadi Warta Berita (1895-1897).

Selanjutnya selama kurun 1901-1904, Datoek Soetan Maharadja menjadi koresponden suratkabar Bintang Hindia dan majalah Insulinde. Enam tahun berikutnya, menjadi editor koran Tjahaja Soematra hingga tahun 1910.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun