Mohon tunggu...
Nanda Yusnita
Nanda Yusnita Mohon Tunggu... Jurnalis - Content Writer - Copywriter

Cafe Review - Movie Review - Event Review - Travelling - Lifestyle. Let's be friend, hit me on Instagram: @nandayusnita

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Respons Rachel Vennya terhadap Kesehatan Mental dalam Art Exhibition "Raven is Odd"

3 Agustus 2019   14:30 Diperbarui: 4 Agustus 2019   02:05 3468
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Raven is Odd, Image by Nanda Yusnita

Selama ini, persoalan kesehatan seringnya hanya dikaitkan dengan kesehatan jasmani. Lalu, ketika orang tidak mampu melakukan sesuatu secara fisik, maka mereka dikategorikan orang yang sedang sakit. Ketika ditelusuri lebih dalam, padahal persoalan kesehatan tak hanya melulu soal jasmani. Seperti apa yang dikatakan oleh Rachel Vennya pada konferensi pers di Kuningan City, Jakarta Selatan (1/8/2019),

"Isu kesehatan mental itu penting untuk digali lebih dalam dan tidak untuk disepelekan. Sebagian orang selalu memandang sakit itu cuma kelihatan dari fisiknya, padahal sebenarnya kesehatan mental itu mempengaruhi bagaimana orang bekerja, bersosialisasi dan menjalani kehidupannya sehari-hari". 

Lalu, menurut survey yang dilakukan WHO (World Health Organization) menunjukkan bahwa sekitar 20 persen anak-anak dan remaja di dunia mengalami gangguan dan permasalahan mental. Dan lebih dari 800.000 orang setiap tahunnya mati karena bunuh diri. Ironinya, bunuh diri sendiri menjadi penyebab terbesar ke-2 kematian yang terjadi pada usia 15-29 tahun. 

Berangkat dari isu kesehatan mental yang terkadang sering dianggap sepele oleh masyarakat sekitar, Rachel Vennya bersama timnya malah mengangkat isu tersebut menjadi sebuah tema dalam pameran seninya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk meningkatkan kesadaran di masyarakat bahwasannya, penyakit mental merupakan salah satu isu serius yang patut untuk diperhatikan.

Dengan ide brilian Rachel Vennya dan sentuhan ide magis konseptor Yendryma, isu penyakit mental ini justru dikemas menjadi sebuah karya luar biasa yang dapat dinikmati oleh seluruh generasi.

Dalam pameran seni "Raven is Odd" terdapat 12 instalasi seni yang menggambarkan bagaimana keadaaan seseorang yang terkena penyakit mental dan apa yang dirasakan olehnya. Uniknya, pesan atau keadaan tersebut tidak disampaikan secara gamblang. Pengunjung bebas berinterpretasi dan berpendapat terhadap kondisi yang digambarkan dalam instalasi tersebut.

Experiencing Magical Asylum, Image by Nanda Yusnita
Experiencing Magical Asylum, Image by Nanda Yusnita

Untuk kamu yang kiranya tertarik atau penasaran seperti apa pameran seninya, kamu bisa langsung datang ke Kuningan City Mall, Jakarta Selatan. "Raven is Odd" berada di lantai 2 dan memiliki 2 area. So, make sure kamu memasuki kedua area tersebut.

Pameran seni ini digelar pada 2 Agustus - 29 September 2019. Untuk harga tiket masuknya Rp.100.000 pada hari biasa (weekdays) dan Rp. 135.000 pada akhir pekan (weekend). Perlu di-notice kalau pembayaran hanya menggunakan uang cash. Sayangnya, Raven is Odd tidak menyediakan layanan pembelian tiket online, jadi tiket hanya bisa dibeli pada saat on the spot.

Satu hal lagi, kamu tidak diperbolehkan untuk membawa kamera profesional. Jadi, sebaiknya kamu membawa kamera pocket atau kamera handphone saja.

Jikalau datang pertanyaan, "Worth it nggak sih untuk berkunjung ke Raven is Odd?" Kalau menurut saya pribadi, jawabannya jelas worth it. Karena rasanya, saya menemukan kebahagiaan tersendiri ketika mengeksplorasi karya seni. Mata pun sangat dimanjakan dengan instalasi-instalasi yang penuh dengan warna serta tataan instalasi yang imut dan juga lucu. Selain itu, tentunya instalasi-instalasi tersebut bisa dikategorikan sebagai tempat yang instagramable banget!

Experiencing Magial Asylum, Image by Nanda Yusnita
Experiencing Magial Asylum, Image by Nanda Yusnita

Yuk Intip Beberapa Instalasi Keren di Raven is Odd: Experiencing Magical Asylum!
Sudah berbicara soal isunya, kini saatnya kita mengapresiasi hasil karya seni kolaborasi ide brilian Rachel Vennya dan konseptor Yendryma dengan menikmati dan mengamatinya, sekaligus membiarkan imajinasi untuk menginterpretasikannya. Interpretasi yang berbeda justru sangat wajar karena sejatinya, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menikmati karya seni. Yuk, langsung saja! 

Rage Room

Rage Room, Image by Nanda Yusnita
Rage Room, Image by Nanda Yusnita
Sesuai dengan namanya, Rage Room ini ada sebuah representasi terhadap gangguan kepribadian dengan ledakan amarah berlebih atau dalam istilah psikologi dikenal dengan IED (Intermittent Explosive Disorder). Dikemas dengan kombinasi-kombinasi warna pastel dan tatanan barang-barang yang berantakan maupun hancur, instalasi ini sangat merepresentasikan keadaan orang yang mengidap gangguan IED.

Mereka yang mengidap IED cenderung susah untuk mengontrol emosinya dan mudah marah sampai-sampai membanting, mengacaukan, atau bahkan menghancurkan barang-barang di sekitarnya hanya karena masalah sepele. Selain merusak barang, pengidap IED juga biasanya mengekspresikan amarahnya dengan mengumpat hingga menjerit. 

Neon Flow

whatsapp-image-2019-08-03-at-2-18-19-pm-5d4535570d823066963c0363.jpeg
whatsapp-image-2019-08-03-at-2-18-19-pm-5d4535570d823066963c0363.jpeg
Neon Flow, Image by Nanda Yusnita
Instalasi Neon Flow ini merepresentasikan kondisi seseorang yang menjadi candu setelah mengkonsumsi zat-zat adiktif. Dengan lorong yang sengaja dibuat tidak lurus dan diberi sentuhan lampu neon, ditambah dengan bola-bola alumunium yang tidak beraturan, benar-benar menggambarkan dunia yang dilihat oleh pecandu zat adiktif. Ketika memasuki instalasi ini, kita pun dapat merasakan keindahannya, seperti sedang merasakan reaksi hormon dopamin yang meningkat. 

Sugar Spin

whatsapp-image-2019-08-03-at-2-23-18-pm-5d4536c10d823003a8602392.jpeg
whatsapp-image-2019-08-03-at-2-23-18-pm-5d4536c10d823003a8602392.jpeg
Sugar Spin, Image by Nanda YusnitaDisebut dengan nama Sugar Spin, instalasi ini menggambarkan kondisi orang yang terkena penyakit mental phrenophobia, ketakutan luar biasa terhadap kegilaan yang akan datang. Biasanya phrenophobia ini ditemukan pada orang yang mengalami kecemasan berlebih, depresi, gangguan identitas, dan bahkan merupakan sebuah reaksi terhadap stres.

Mereka yang mengidap phrenophobia biasanya sulit untuk memecahkan masalah secara adaptif, maka kecenderungan dari mereka mengkonsumsi zat-zat adiktif untuk menghadapi situasi tersebut. 

Rasanya cukup bagi saya hanya memaparkan beberapa review instalasi di pameran Raven is Odd ini. Datang saja agar kamu bisa berinterpretasi sendiri dan merasakan experience-nya langsung tanpa adanya intervensi dari pendapat saya pribadi. Tentunya masih banyak lagi instalasi-instalasi unik lainnya yang menceritakan tentang penyakit mental, dimulai dari gambaran kondisi sampai apa yang dirasakan oleh pengidap penyakit tersebut. 

Last but not least, satu quotes dari film "13 Reasons Why" yang kiranya dapat kita resapi bersama "You don't know what goes on in anyone's life but your own", yang dalam artian, kita tidak pernah tau apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain kecuali diri kita sendiri. So, respect each other coz we dont know how much struggle they encountered everyday.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun