Mengapa kau larang aku bersajak tentang hujan?
Lalu kau ucap aku penyair bulan bintang.
Sedang ada banyak hujan dalam syairmu.
Tentu kau ingat, mengapa aku selalu mengutip hujan pada setiap puisiku?
Sebab kau yang selalu datang membawa hujan sebagai buah tangan.
Ia seperti cokelat atau bahkan boneka yang kau bingkiskan dengan kertas berwarna.
Bahkan ketika kau sedang dimana saja, selalu kau kirimkan aku  oleh-oleh hujan.
Entah itu kau kirim lewat JNE, Tiki, Pos, bahkan lewat mimpi.
Hingga rumahku sesak dengan hujan.
Terkadang aku bosan menerima hujan, aku rindu dikirimi mainan kunci atau kaos
Kau pikir ia berserak? Tidak. Selalu kusimpan rapi dalam bungkusnya.
Karena aku tahu, betapa berapa kali kau mengirimkan bingkisan, selalu saja hujan yang ada dibalik bungkusan.
Entah itu hujan dari Alaska, Jogja, Papua, atau Amerika
Terkadang kau berkilah, setiap hujan yang kuterima memiliki rasa berbeda.
Maka kuputuskan saja ia tetap dibingkisnya.
Tetap mempunyai rasa berbeda.
Tapi, tidur bersama hujan terkadang membuatku bosan. Aku ingin memiliki pasangan
Makan hujan pun membuatku mual. Perutku selalu menolak karena selalu kuisi hujan
Mandi hujan juga sering membuatku sakit
Bahkan bermain bersama hujan membuatku kehilangan teman.
Lalu apa salah bila aku bersajak tentang hujan?
Aku hanya ingin membagi pada dunia,
Bahwa selalu bersama hujan hidupku tak pernah bertemu pelangi.
Maka setelah kau baca sajak ini.
Masih ingin kau larang aku menitipkan hujan pada setiap sajakku?
Kurasa membagi hujan dari Alaska, atau darimana pun itu bukanlah kejahatan.
Karena rasa yang berbeda itu ingin ku sebarkan pada semua
Maka jangan larang aku selalu menyelipkan hujanmu pada setiap puisiku.
Palupi, 24/11/2014
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI