Manuskrip merupakan sebuah tulisan naskah kuno yang ditulis langsung oleh para pendahulu kita, begitu singkatnya. Pada dasarnya manuskrip itu sangat erat kaitannya terhadap ilmu filologi dan kodikilogi namun memang sangat menarik sekali kedua ilmu ini terhadap manuskrip, menurut pendapat saya pribadi manuskrip sangat menarik untuk dikaji dan diteliti secara bersama, karena apa?
Karena dengan kita mempelajari manuskrip serta kita mengamatinya kita bisa tahu apa yang telah ditulis oleh para pendahulu kita jadi kita bisa paham apa isi dari manuskrip yang ditulis oleh pendahulu kita pada masa itu. Diatas merupakan sebuah manuskrip yang ditulis langsung oleh nenek moyang kita di salah satu daerah di Provinsi Banten.
Banten merupakan provinsi yang ada di Indonesia, didalamnya terdapat banyak ribuan manuskrip, diatas adalah salah satu manuskrip digital yang saya temukan di salah satu website kementerian Agama yang ditemukan tepatnya merupakan naskah di salah satu koleksi Museum Banten Girang.
Naskah ini merupakan kitab Asrar dimana kondisi naskah tersebut kurang lengkap serta tidak adanya cover di awal naskah tersebut, naskah diatas menggunakan sebagian besar dengan bahasa Arab dan Jawa serta menggunakan aksara Arab, dengan ketebalan 60 hal, setiap halaman ada 7 baris tulisan, dan ukuran naskah 26 x 21 cm, naskah ini tidak memiliki no halaman pada setiap lembarnya, serta naskah ini ditulis menggunakan kertas Eropa dengan watermark dan counter mark, namun agak sulit untuk mengidentifikasinya, karena tertutupi oleh tulisan, dan ditulis dengan tinta hitam, dan di jilid dengan benang.
Kondisi naskah agak terawat namun ada sedikit bagian yang rusak akan tetapi itu tidak sampai mengganggu pada tulisannya hanya kertasnya saja yang sudah mulai rusak. Naskah yang sudah mulai rusak pada halaman 14-19 yang dimana kertas nya sudah mulai robek dan rapuh, tapi tulisan nya masih terbaca sangat jelas.
Jika kita melihat dari isi salah satu manuskrip diatas bahwa naskah tersebut menjelaskan tentang kedekatan atau taqarrub kita kepada sang pencipta yakni Allah SWT. Pada bagian awal dari teks nya itu menjelaskan kepada kita tentang keutamaan Dzikir dan selalu mengingat Allah pada halaman pertama pada baris pertama dituliskan “udkuruni udkurukum wata hikabihi faklaan wanaha.., maknanya "anyebute sire kabeh ing isun maka isun anyebut ing sire kabeh lan ogeh ing sira kalaan iya-iye kautaman lan ogeh Allah". Jadi selayaknya bagi kita sebagai hamba Nya dalam keadaan apapun dan kondisi apapun harus selalu berdzikir kepada Allah. Allah SWT sangat mencintai hamba Nya yang selalu berdzikir kepada Nya.
Yang artinya dan Allah SWT berfirman: Dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. Dan Allah SWT berfirman: laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah SWT. Dan Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
Telah jelas diatas bahwa jikalau kita sebagai hamba Allah selalu berdzikir menyebut asma Allah senantiasa kita termasuk orang yang beruntung, dan hati kita pun akan merasa tentram, damai, tenang, dan dengan kita berdzikir Allah sangat mencintai hamba Nya yang selalu senantiasa mengingat nama Nya.
Kita sebagai generasi penerus sejatinya kita semua harus menjaga dan melestarikan manuskrip-manuskrip yang kita miliki agar tidak punah ataupun hilang dan rusak, sejatinya manuskrip itu adalah tulisan yang ditulis langsung oleh para pendahulu kita, maka dari itu kita harus merawatnya karena merupakan sejarah dan kekayaan budaya yang negara kita miliki.