Kalimat itu meluncur dari pengemudi taxi yang saya tumpangi kemarin sore. "Kenapa, Pak?" Saya tanya. Penasaran.
"Ya, orang jadi nggak mikirin susahnya hidup. Nggak mikir rupiah jatuh, Bu. Akiknya itu digosok-gosok terus sampe kilap. Lupa semua.. Dulu khan juga gitu, Bu. Waktu rupiah jatuh, pas ada Piala Dunia. Orang-orang sibuk nonton".
Pengalihan isu memang biasa terjadi karena perhatian masyarakat tidak fokus. Saya bukan mau nulis tentang politik, tapi tentang batu akik. Eit, saya bukan penggemarnya juga lho.. Meskipun saya punya batu-batuan di rumah, ada batu bata, batu taman, batu kecil, batu kerikil..
Batu akik menjadi bahan pembicaraan seru akhir-akhir ini. Mendadak banyak orang buka lapak akik di mana-mana. Tiba-tiba jari-jari kekar kini tampak 'manis' karena ada cincin akiknya. Belum lagi kalung akik.. Wah..wah.. Rupanya pencetus tren akik berhasil menempatkan akik sebagai 'headline' dalam aktivitas hidup masyarakat. Jadi pingin belajar marketing sama beliaunya..
Ternyata batu akik itu punya filosofi juga. Setidaknya demikian menurut saya. Ketika tadi saya berkeliling di stand pameran batu akik, ada batu akik namanya Sisik Naga. Asalnya dari Sulawesi. Motifnya beragam.
"Meskipun berasal dari bongkahan yang sama, tapi motifnya beda-beda. Keunggulan Sisik Naga ini motifnya. Kalau dilihat, tidak ada motif yang sama persis, coba aja keliling ke semua stand", jelas penjualnya. "Ibu mau yang mana?" Lhaa.. saya ini kebetulan mau beli makanan kok, cuman karena penasaran, mampirlah saya di pameran bertajuk Batu Nusantara ini. Beli? Ohhh..tidak..
Antara percaya dan tidak dengan kata penjualnya itu, saya muter ke beberapa stand untuk menemukan motif yang sama. Ternyata memang tidak ada motif Sisik Naga yang sama. Jadi sebenarnya, naga itu ada berapa sisiknya ya? #salahfokus
Terlintas dalam benak saya. Kalau batu saja, benda yang tidak kekal, diciptakan Tuhan bervariasi, apalagi manusia. Meskipun berasal dari suatu bongkahan yang sama, tapi menghasilkan keunikan motif per batunya. Begitu pun manusia. Meskipun berasal dari etnis yang sama, dari rahim ibu yang sama, atau dari tempat kelahiran yang sama, tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Tiap manusia itu unik. Memang ada pola perilaku dalam suatu kelompok yang disebut kebudayaan, tapi tetap individu di dalamnya berbeda antara satu dengan yang lain. Saya yakin Tuhan menciptakan perbedaan itu untuk saling mengenal, saling melengkapi, saling bersinergi, bukan saling meniadakan atau "membasmi" kelompok-kodrat-manusia-lainnya.
Apa serunya kalau semua orang senang batu Bacan saja, atau Garut saja, atau Merah Delima saja, atau Batu Safir saja (eh saya kok jadi kayak sales batu akik yaaa..). Nggak bakalan ada pameran batu. Nggak bakalan ada perlombaan. Nggak bakalan ada seorang ibu yang iseng mampir trus motret-motret nggak jelas tujuannya itu.. Ya khan?
Ya, seringkali orang lupa kalau keberagaraman itu lebih indah bila dipadupadankan. Lebih powerful bila disinergikan. Dan jauh lebih luhur ketika dimaknai sebagai ketentuan Ilahi.