Tepat pukul 03.00 pagi Lembayung terbangun dari tidurnya. Mimpi yang ia alami seakan sangat nyata. Dalam mimpi Lembayung pergi bareng dengan Rangga. Mereka berdua sedang membeli makanan gerobakan, di tengah antrian Rangga bertemu mantan nya. Mereka berdua mengobrol, tatapan Rangga sangat penuh arti dan sangat tampak sedang mengagumi mantannya.Â
Kala itu, dalam mimpi Lembayung merasa sangat dongkol dan cemburu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Selang beberapa menit Lembayung tiba di rumah, aneh adik-adiknya menjadi anak-anak.
Ternyata Rangga menyusul hingga depan rumah. Kemudian Lembayung meminta adiknya untuk mengajak Rangga masuk, hanya saja Rangga menolak. Terlihat jelas tampilan Rangga di depan rumahnya. Rambut semi gondrong, pakai jeans warna sudah pudar, kulit sangat gelap dan kacamata lusuh.
Lembayung heran melihat Rangga tidak masuk ke rumahnya dan malah terdiam di depan rumah saja. Rasa bingung tersebut makin menjadi ketika Lembayung terbangun dari tidurnya. Ya, ia hanya bermimpi bertemu dengan mantannya. Namun sangat terasa nyata. Entah ia sedang merindu atau sebaliknya.Â
Semenjak kehilangan Rangga dari hidupnya, Lembayung berupaya terlihat baik-baik saja. Menutupi duka dengan terus bekerja serta menyibukkan diri mengikuti berbagai kegiatan pengembangan.
Namun, nyatanya ia amat kehilangan Rangga. Dalam alam bawah sadarnya ia mempertanyakan kenapa Rangga pergi meninggalkan Lembayung, saat Lembayung nyaman dan menganggap Rangga adalah sosok yang akan memenuhi banyak hal dalam hidupnya. Rangga tempat terbaik untuk bercerita, Rangga sangat penuh pengertian dan membuat Lembayung sangat nyaman dan aman.
Alasan perpisahannya amat klise "Kita tidak cocok, tidak bisa melanjutkan. Kamu sama saya tidak bisa saling melengkapi". Padahal yang di rasakan Lembayung kebalikannya. Saat Rangga pergi maka ia merasa amat kehilangan bahkan terasa timpang. Entah Lembayung yang cinta sendirian atau memang Rangga bukan orangnya seperti sebuah lagu hits di kalangan anak muda zaman now.Â
Sebangun dari mimpi itu, Lembayung punya banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia hanya terdiam beberapa saat. Kemudian melangkahkan kaki menuju tempat wudhu dan menenangkan diri dengan sholat.Â
Rangga adalah mantan suaminya, mereka menikah hampir 5 tahun. Sayangnya perceraian yang Rangga pilih sebagai jalan keluar dari mereka berdua. Meski Lembayung sudah memohon bahkan bersujud supaya tidak diceraikan. Mungkin Rangga memang tidak bisa menerima bahwa mereka belum punya momongan, Rangga terlihat frustasi dengan kondisi pernikahan yang belum juga dikaruniai momongan.Â
Sayangnya Rangga tidak memilih jalan mencari solusi nyata dan berkonsultasi secara fair. Ia malah memilih mengakhiri pernikahan yang selama ini membuat Lembayung begitu nyaman dan terpaut.Â
Menyisakan tanda tanya besar dan lubang di hati Lembayung. Meski berusaha terus ia tepiskan, nyatanya perasaan itu terus menghantui kehidupan Lembayung.Â
Setahun dari perceraian, Lembayung kembali mendapati badainya. Ia kena PHK dari kantor tempat bekerja. Â Sayangnya bukan PHK dengan uang bekal, melainkan di PHK dengan cara diminta membuat surat resign karena tempat ia bekerja sudah menjelang kebangkrutan dan pihak kantor tidak bisa memberikan uang kenangan bagi karyawannya.Â
Beberapa pihak langsung menjudge bahwa Lembayung memang problematik dan punya kesalahan yang banyak sehingga sedang mendapatkan ganjaran setimpal. Pemikiran sekitar yang teramat jahat itu, lantas membuat Lembayung semakin bertanya-tanya apakah benar ini bentuk hukuman? Ia makin merasa takut menghadapi dunia kedepannya. Ia sempat enggan keluar rumah.Â
Hanya diam dan kebingungan. Kini statusnya berbeda dan ia sudah kehilangan mata pencahariannya. Lembayung hanya bisa berharap semoga pencipta mengasihani dan menolongnya. Ia tidak mampu bercerita kepada orang tua atau temannya. Lembayung merasa sangat kehilangan banyak hal dan berusaha bangkit meski terseok.
Ia kembali berjuang melamar pekerjaan, mencari peluang di dunia digital baik mencari peluang freelancer. Berusaha tetap tegar dan kuat, nyatanya selama hayat masih dikandung badan ia harus tetap survive dengan cara yang benar.
Sulit? Lelah? Tentu. Keduanya jadi tambahan duka dan luka yang masih menganga. Begitulah hidup, penuh misteri dan tanda tanya. Namun waktu tidak memberi jeda. Harus tetap bergerak demi mendapatkan peluang yang lebih layak untuk sekedar bertahan di kefanaan.Â
Dua potong hati terkoyak, nyatanya selalu ada dan terjadi di lingkungan terdekat. Hanya saja mereka cukup tenang untuk menutupi kedukaan.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI