1. 3. Ujian Anak Rantau
Ujian ketahanan itu pada ghalibnya terjadi sepanjang masa. Demikian juga bagi kami anak rantau di negeri orang. Berbagai hal dan keadaan yang berbeda menjadi pengalaman baru sekaligus sebuah tantangan yang terkadang terasa begitu berat.
Bagi kami 20 pria rantau berkeluarga ini, sebulan di Den Bosch berpisah dengan keluarga, membuat irama dan nuansa hati sering bergejolak. Membuat sedih, namun juga ada kalanya terasa menyenangkan menjadi seorang free man.
Tahun 1990, tentu belum ada yang namanya telepon seluler, gadget. Juga internet barangkali masih menjadi khayalan para jenius teknologi informasi. Kita berkomunikasi jarak jauh masih menggunakan perangkat sambungan kabel. Komunikasi para rantau dengan keluarga rendet tak lancar.
Ditambah lagi kebanyakan rumah kami di tanah air belum memiliki sambungan telpon. Sempurnalah sudah kendala komunikasi ini menjadi tantangan berat.
Surat tertulis berprangko menjadi sarana komunikasi utama. Di surat itu kita membuat janjian dengan istri, menentukan jadwal kapan akan bertelepon. Misalnya setiap hari sabtu jam 10 pagi. Karena isteri harus ke rumah tetangga yang memiliki telpon. Menumpang bertelepon, menunggu callingan dari Belanda.
Di kantor pos seberang stasiun sentral di Centrum kami akan membeli kartu telepon. Tinggal pilih yang harga 15 gulden, 25, atau 50 gulden tergantung waktu sambung yang diinginkan. Lalu menuju jajaran kotak telepon yang berderet di disamping gedung kantor pos.
Sebelum kita sampai pada adegan telponan jarak super jauh yang terkadang menjadi sebuah adegan dramatis, ada baiknya kita belajar konsep Centrum ala Belanda. Yaitu penerapan nyata perencanaan tata ruang dan transportasi publik, yang menurut saya efektif dan layak diadopsi.
Centrum adalah pusat kota. Tempat segala aktivitas berlangsung. Dari perkantoran, pertokoan, restoran, hiburan. Juga transportasi.
Kita semua tahu, di Belanda kereta api adalah prasarana transportasi utama, yang efektif dan paling ekonomis menghubungkan seluruh daratan negeri ini.