Hembusan Angin Cemara Tujuh 68
Sutopo masih terlongong longong, heran dan takjub. Dua Rembulan bundar yang bentuk dan cahayanya begitu menakjubkan itu telah hilang begitu saja. Sutopo masih mencari cari, berganti ganti menatap jurang gelap dan memandang langit cerah bertabur Bintang.
Tiba tiba ada suara memanggil namanya di kejauhan.
" Po, Topo kamu dimana " dua kali suara panggilan teman temannya terdengar mendekat.
Mendengar panggilan itu, Sutopo tersadar sepenuhnya. Rasa dingin yang semula tak dirasakan menyergap tubuhnya. Rasa dingin malam di Gunung, anyes njekut. Sutopo berteriak dan berlari ke arah suara panggilan itu.
" Hooe , aku no kene "
Sutopo bertemu Heru dan dua temannya yang lain, wajah mereka nampak tegang. Juga heran melihat Topo bertelanjang dada di udara sedingin ini. Teman temannya itu panik ketika saat pergantian jaga tidak menemukan Topo. Hanya tumpukan pakaiannya yang ada, teronggok di atas batu.
Ketika Heru dengan wajah kaku menanyakan apa yang terjadi. Sutopo hanya tertawa cengengesan. Segera memakai Celana, kaos, sarung dan jaketnya yang dibawa temannya.
" main main sama itu " kata Sutopo sambil menunjuk lima Menjangan yang jelas siluetnya, berdiri diam dekat mereka. Ketiga temannya menoleh dan terkejut melihat lima hewan membisu disitu yang baru disadari kehadirannya. Bersiaga. Namun ketika tahu kalau lima makhluk itu adalah Menjangan, mereka tenang.
" syukur kamu tidak apa apa, jangan mati dulu lho Po, kita belum sampai di Puncak. Jangan diulangi macem macem lagi " hardik Heru berlagak jengkel. Tetapi dalam hatinya mereda lega, hilang khawatirnya karena menemukan Topo disini.
Mereka berjalan kembali ke tenda, berpapasan dengan Lima Menjangan yang tetap berdiri mematung. Keheranan memandangi makhluk asing yang keluyuran malam malam di tengah Padang. Empat sahabat itu berpaling dan membalas tatapan mereka. Terjadilah adegan teatrikal tatap menatap , siluet empat manusia dan lima hewan bertanduk dibawah langit biru malam berjuta Bintang.