Dalam lembayung kata-kata, kami mengajak Anda mengarungi lautan viralitas yang tak terbatas. Dalam gelombang ironi dan kehangatan, puisi ini menggambarkan perjalanan kita melampaui sorotan palsu media sosial menuju kedamaian dalam kesehatan jiwa. Mari merenung, menggugah jiwa, dan berinteraksi dengan setiap bait yang terpahat dalam puisi ini.
Di dunia maya yang gila,
Viralitas melambung tinggi,
Kita terhanyut dalam lautan tak terbatas,
Emosi berkecamuk, hati pun bersedih.Sorotan gemerlap dan kilauan palsu,
Media sosial menjadi penjara tak kasat mata,
Kita terperangkap dalam jaring informasi,
Hati teriris, kesehatan jiwa terjaga.
Likes dan shares menari di layar,
Seperti candu, mereka memikat hati,
Tetapi di balik layar, kehampaan menyamar,
Kita mencari validasi dalam dunia yang samar.Di antara filter dan caption penuh pesona,
Kita mencari arti dalam sekilas gambar,
Namun di dalam hati, terdapat luka yang tersembunyi,
Ketidaksempurnaan kita tak mau kita ungkapkan.Tapi tunggu sejenak, hentikan perjalanan,
Di tengah kebisingan, temukan keheningan,
Dengarkan suara dalam diri, itu suara sejati,
Merangkul kita, memandu kita melampaui realitas palsu.Pernahkah kita merasakan aroma bunga di pagi hari?
Atau menikmati embusan angin di tepi pantai?
Terkadang, dunia digital menyebabkan kita lupa,
Bahwa di luar sana, kehidupan nyata masih berputar.Mungkin waktu telah tiba untuk berhenti sejenak,
Merangkul keseimbangan dalam hiruk-pikuk dunia maya,
Kita bisa melepaskan diri dari viralitas yang terlalu kuat,
Menciptakan ruang bagi kesehatan jiwa kita berbunga.Mari kembali pada tradisi dan akar kita,
Menemukan ketenangan dalam ritual sederhana,
Dan jika viralitas menghampiri, biarkan kita tetap sadar,
Mengendalikan reaksi dan menggenggam kendali.Di era digital yang menggoda dan semu,
Kita masih punya kuasa untuk mengarahkan arah,
Melampaui viralitas, kita menggugah kesehatan jiwa,
Mengisi hidup dengan arti, dan menyatukan hati kita.