Mohon tunggu...
Muharika Adi Wiraputra
Muharika Adi Wiraputra Mohon Tunggu... Human

memayu hayuning bawana

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Bukber Jangan Jadi Ajang Pamer, Jadikan Lebih Bermakna

16 Maret 2025   13:57 Diperbarui: 16 Maret 2025   23:08 473
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi Buka Bersama Ramadan via Kompas.com (sumber asli: Shutterstock/dotshock)

Setiap Ramadan, ajakan berbuka puasa bersama (bukber) pasti berseliweran di grup WhatsApp. Mulai dari reuni alumni sekolah, kumpul keluarga besar, hingga sekadar temu kangen dengan teman lama. 

Sayangnya, tidak jarang bukber berubah dari momen kebersamaan menjadi ajang pamer—pamer kesuksesan, pencapaian, atau bahkan gengsi siapa yang datang dengan kendaraan paling mewah. Padahal, esensi bukber bukan itu kan?

Bukber seharusnya menjadi silaturahmi. Tentang menyambung kembali obrolan yang sempat terputus, menertawakan kenangan lama, dan berbagi cerita tanpa harus ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Jangan sampai niat baik untuk bertemu justru menimbulkan rasa minder atau perasaan tidak nyaman bagi orang lain.

Bukber Itu Kebersamaan, Bukan Ajang "Siapa yang Paling Sukses"

Kalau datang ke bukber, bersikaplah biasa saja. Tak perlu dengan sengaja menaruh lanyard kantor prestisius atau kunci mobil di meja, lalu berkata, "Maaf ya, baru datang. Sibuk kerja nih." Seolah ingin menunjukkan diri paling sibuk dan sukses. 

Kita semua bekerja dan berusaha dalam hidup, dan yang lain juga punya perjuangannya masing-masing. Tidak perlu membangun tembok gengsi di antara teman-teman sendiri. Bukber adalah momen menyambung kebersamaan, bukan panggung adu pencapaian.

Kalau bukber alumni, usahakan untuk ngobrol dengan semua teman, bukan hanya dengan kelompok yang dulu dekat saja. Kita semua bertumbuh, dan siapa tahu ada teman lama yang dulu tidak terlalu akrab, tapi sekarang nyambung ngobrolnya. 

Jangan sampai ada yang merasa diabaikan, Ya. Bukber harus jadi ajang merangkul, bukan mengotak-ngotakkan.

Yang lebih indah adalah tetap bersikap rendah hati. Tersenyum, menyapa, dan berjabat tangan dengan semua yang hadir, tanpa memandang siapa yang lebih "berhasil" atau siapa yang masih "berjuang." Percakapan yang hangat jauh lebih berharga daripada sekadar gengsi yang dipertontonkan.

Jangan Boros, Jangan Hilangkan Excitement

Bukber juga tidak harus selalu di tempat mahal. Kadang, kita terlalu fokus mencari tempat yang mewah dan Instagramable, padahal yang lebih penting adalah kebersamaan itu sendiri. Bukber yang terlalu mewah justru bisa membuat beberapa teman merasa tidak nyaman atau terpaksa ikut hanya demi gengsi.

Lagipula, jika terlalu sering mengadakan bukber di tempat yang boros, keseruannya bisa berkurang. Awalnya excited, tapi lama-lama terasa membebani. Bukber yang sederhana namun penuh kehangatan jauh lebih berkesan daripada yang mewah tapi terasa kaku.

Jangan Lupa Salat Magrib, Jangan Sampai Lupa Ibadah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun