Sepanjang jalan itu
Sore itu deru ponsel menggetarkan dada
Tanda pesan dari mu " Mas bisa antarkan aku pulang" Tulis mu
Selepas magrib yang basah
Ku pacu sepeda tuaku
Meski bukan pertama perasaan debar itu masih sama
Sepanjang jalan itu kau menanyai ku
Yang jawabanku hanya Iya dan Ha
Atau helm kita yang kadang saling beradu
Disela waktu
Menggeser kaca spion kananku kearah wajahmu, menjadi kesibukan kecil yang menyenangkan, kau tersipu malu
Dingin angin malam
Tak mampu menggigilkan hangat suasana
Kau pun entah kapan  menyenderkan kepalamu di pundak kananku, dan pelukan yang malu malu kau eratkan , segalanya nyaris sempurna, tiang hatiku rubuh tak mampu menahan luap cintamu.
Debar itu menjalar sepanjang jalan
Kibar rambut mu menjadi semacam mencusuar penunjuk arah tempat bagi rindu berlabuh.
Kau tahu, di sepanjang jalan itu
Telah ku tabung harap, meski tak tahu kapan akan di curi waktu, karena seperti katamu tak ada yg pasti di hadapan waktu,
Gerimis pun jatuh di depan rumahmu
"Mas ada mantel untuk pulang"
Tenanglah cukup doamu menjadi mantel ku,
Masuklah dik.
"Selamat jalan "ucapmu
Pada akhirnya kita pun gagal meyakinkan waktu agar kebersamaan ini tak cepat  berlalu.