Ketiadaan ekspresi kata 'pekalah' atau 'pengalah' menyebabkan bervariasinya kata yang digunakan penutur. Umumnya penutur akan menggantinya dengan verba, seperti pada data-data di atas, yakni: 'dipecundangi', 'tak berdaya', 'tumbang', 'taklukkan', 'bertekuk lutut', dan 'ditundukkan'.
Menilik secara konsep makna kata 'dipecundangi' mempunyai kata dasar 'cundang', sama seperti halnya penjelasan sebelumnya pada kata 'pecundang', konsep kata 'dipecundangi' bermakna dihasut'; sedangkan, 'tak berdaya' mempunyai konsep makna 'tidak berkekuatan/berkemampuan'; begitu juga dengan kata 'tumbang' yang mempunyai konsep makna 'jatuh/runtuh (kekuasaan)'. Ketiga ekspresi bahasa tersebut secara makna jelas bergeser dari konsep makna 'orang yang kalah'.Â
Adapun ketiga ekspresi bahasa lainnya 'taklukkan', 'bertekuk lutut', dan 'ditundukkan' mempunyai konsep makna yang serupa yakni 'menyerah kalah'; konsep tersebut memang hampir sama dengan konsep 'orang yang kalah', akan tetapi menilik dari konsep 'menyerah' yang bermakna 'berserah/pasrah'terlihat ada sedikit pergeseran dari konsep maknanya, dan kurang tepat untuk dipadankan dalam konteks pertandingan atau kompetisi.
b. Refleksi Ketiadaan Padanan Lawan Kata "Pemenang" terhadap Identitas dan Budaya Indonesia
Refleksi terhadap ketiadaan kata kalah ini bisa terlihat dari segi adat kebiasaan orang Indonesia. Indonesia terdiri dari berbagai etnik, agama, dan bahasa yang disatukan dalam sejarah kolonialisme yang sama. Etnik yang berbeda-beda menyebabkan mudahnya muncul perpecahan dan konflik antar etnik, maka keharmonisan antar masyarakat menjadi hal yang dijunjung tinggi.Â
Indonesia juga dikenal dengan tingkah laku yang sopan dan santun dalam berbicara. Hal ini tercermin dari cara orang Indonesia berkomunikasi.
Hati-hati dalam pemilihan kata dan juga pertimbangan usia dan kedudukan menjadi hal penting dalam berinteraksi dengan orang yang lainnya. Bahasa yang digunakan untuk senior atau orang yang lebih tua harus sopan dan tidak menyakiti hati. Pertemanan juga adalah hal yang sangat penting untuk dijaga.Â
Oleh sebab itu, Orang Indonesia dikenal suka menyembunyikan perasaan yang sebenarnya terutama perasaan tidak suka terhadap orang lain.
Hal ini juga salah satu cara untuk menghindari konfrontasi langsung dengan orang yang tidak disukainya tersebut. Hal lain yang penting dalam berinteraksi dengan orang lain adalah tidak menjadi menjadi sumber yang menyebabkan orang merasa malu. Maka penting untuk menghindari menunjuk hidung secara langsung orang yang bersalah.
Penggunaan kalimat pasif dan tidak langsung menjadi salah satu cara untuk menyampaikan maksud yang dianggap lebih sopan (Moffat, 2012: 6). Adat budaya yang dipaparkan diatas memang lebih identik dengan budaya Jawa, tetapi adat kebiasaan ini menjadi bagian dari identitas Indonesia yang dikenal luas.
Cara komunikasi inilah yang mempengaruhi penulisan tentang kekalahan. Jika ditinjau dari data diatas. Maka ekpresi untuk menunjukan kekalahan tidak menunjuk langsung pada orang yang kalah.