Mohon tunggu...
Muhammad Rayhan Bustam
Muhammad Rayhan Bustam Mohon Tunggu... Dosen - Dosen

Pemerhati Linguistik, bahasa, dan wacana.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ketiadaan Antonim Kata "Pemenang" Memengaruhi Lahirnya Identitas Negatif Bangsa

4 Oktober 2022   16:00 Diperbarui: 5 Oktober 2022   09:55 1501
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pelampiasan kekecewaan suporter Persebaya Surabaya seusai kalah dari RANS Nusantara FC saat pertandingan pekan ke-10 Liga 1 2022-2023 yang berakhir dengan skor 1-2 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Kamis (15/9/2022) malam.(KOMPAS.com/SUCI RAHAYU)

Hal ini diwujudkan salah satunya dengan adanya bahasa kesatuan Republik Indonesia yakni bahasa Indonesia.

Oleh sebab itu, bahasa Indonesia merefleksikan identitas bangsa Indonesia. Tetapi di sisi lain, bahasa yang digunakan terus menerus dapat juga membentuk pola pikir dan cara berperilaku penuturnya.

Setiap bahasa mempunyai cara sendiri dalam mengekspresikan suatu hal. Bahasa Indonesia mengenal beragam istilah untuk menamai kata beras misalnya ada padi, nasi, gabah, sedangkan dalam Bahasa Inggris hanya ada kata 'rice'.

Dengan melihat padanan kata seperti ini kita dapat memperhatikan pola pikir dan perilaku masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. 

Permasalahan perbedaan pola pikir dan budaya antar pengguna bahasa juga terlihat dari padanan kata 'loser' dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata yang tepat untuk mengekspresikan kata 'loser'.

Menilik ke kamus Inggris-Indonesia, kata 'loser' itu bermakna 'pecundang'. Kata 'pecundang' memiliki konotasi yang negatif, dan lebih rendah dibandingkan dengan 'orang yang kalah'.

Oleh karenanya, kata 'pecundang' tidak tepat dijadikan sebagai padanan kata 'loser'yang mengacu pada'orang yang kalah' dalam sebuah pertandingan atau kompetisi apapun.

Ketiadaan istilah secara tidak langsung mempengarui cara berpikir dan berperilaku, serta berdampak positif dan negatif. Maka penelitian ini sendiri bermaksud untuk menganalisis penggunaan kata yang merujuk pada "orang yang kalah."

Media surat kabar online berbahasa Indonesia dan Inggris digunakan sebagai sumber data dengan pertimbangan bahwa surat kabar adalah media komunikasi yang digunakan oleh masyarakat banyak sehingga secara tidak langsung merefleksikan penggunaan bahasa pada suatu masyarakat.

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian sederhana ini bertujuan untuk:

(1) mengetahui ekspresi bahasa apa saja yang digunakan surat kabar dalam mengungkapkan makna 'orang yang kalah'sebagai lawan kata 'pemenang', dan (2) medeskripsikan dampak ketiadaan lawan kata 'pemenang' dalam mempengaruhi cara bangsa Indonesia berpikir dan berperilaku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun