Sulit rasanya memprediksi bagaimana kondisi Timur Tengah pasca genosida di Gaza, di mana Netanyahu bersumpah untuk mengambil dan mengontrol kembali wilayah itu.
Kita belum tahu apa hasil politik dari perang ini, bahkan ketika proporsi bencana menjadi semakin nyata dengan lebih dari 16.000 warga Palestina terbunuh-sebagian besar adalah wanita dan anak-anak.
Selain itu, sekitar 1,8 juta jiwa telah mengungsi karena infrastruktur penting di Gaza telah hancur.
Artinya, wajah baru Timur Tengah akan ditandai kembali oleh sejumlah besar pengungsi dan orang-orang terlantar untuk tinggal di kamp-kamp sesak dan tidak manusiawi.
Situasi ini agaknya mirip dengan kondisi perang di Suriah, yang mana telah memaksa sejumlah besar pengungsi dan orang-orang kehilangan tempat tinggal.
Ada lebih dari 5 juta pengungsi Suriah yang terdaftar di Turki, Lebanon, Yordania, Irak, dan Mesir, di samping jutaan lainnya mengungsi di dalam negeri.
Banyak dari mereka hidup dalam kondisi sulit dan menghadapi kemiskinan yang ekstrim.
Satu hal yang pasti, perang akan menciptakan generasi baru penderitaan psikologis karena mereka berjuang untuk mengatasi kematian dan kehilangan.
Generasi yang terpinggirkan
Dinamika perpindahan selalu terkait dengan radikalisme, kecemasan, ketidakpastian, dsb. Hal ini memudahkan proses perekrutan kaum muda yang tidak puas ke dalam kelompok-kelompok seperti ISIS.