Diskriminasi adalah suatu perilaku atau perlakuan tidak adil terhadap individu atau kelompok berdasarkan karakteristik tertentu. Salah satu bentuk diskriminasi yang sering terjadi adalah ageisme atau diskriminasi berdasarkan usia.Â
Ageisme terjadi ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil atau mendapat perlakuan buruk hanya berdasarkan usia mereka. Meskipun ageisme tidak selalu terlihat dengan jelas, namun dampaknya bisa sangat merugikan.Â
Dalam artikel ini, akan dijelaskan beberapa contoh konkret tentang bagaimana ageisme atau diskriminasi usia terjadi dalam kegiatan sehari-hari.
1. Lowongan Pekerjaan
Salah satu contoh yang paling umum dari ageisme terjadi dalam proses perekrutan pekerjaan. Banyak perusahaan cenderung mencari karyawan yang lebih muda, dengan alasan bahwa mereka lebih energik, lebih mudah beradaptasi dengan teknologi, atau memiliki potensi lebih besar untuk berkembang. Hal ini menyebabkan pelamar pekerjaan yang lebih tua sering kali diabaikan meskipun memiliki pengalaman dan kualifikasi yang lebih baik. Pengabaian ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga merugikan perusahaan yang kehilangan peluang untuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman berharga yang dimiliki oleh individu yang lebih tua.
2. Media dan Periklanan
Industri media dan periklanan sering kali menampilkan gambaran stereotip tentang usia tertentu. Misalnya, iklan-iklan seringkali menampilkan orang-orang muda dalam situasi yang positif dan aktif, sementara orang-orang tua seringkali digambarkan sebagai kurang berdaya atau kurang relevan. Stereotip semacam ini tidak hanya merugikan bagi individu yang lebih tua, tetapi juga menciptakan persepsi yang tidak akurat tentang usia dan kemampuan mereka.
3. Pelayanan Kesehatan
Ageisme juga dapat ditemukan dalam sektor pelayanan kesehatan. Kadang-kadang, dokter atau tenaga medis dapat meremehkan keluhan fisik atau psikologis yang dialami oleh pasien yang lebih tua. Pasien yang lebih tua juga mungkin tidak mendapatkan perawatan yang sama intensifnya seperti pasien yang lebih muda, karena anggapan bahwa penyakit atau kondisi tertentu adalah bagian alami dari penuaan. Hal ini dapat menghambat akses mereka terhadap perawatan yang sesuai dan mengurangi kualitas hidup mereka.
4. Pendidikan dan Pelatihan
Di berbagai institusi pendidikan dan pelatihan, ageisme dapat tercermin dalam perlakuan yang berbeda terhadap mahasiswa berdasarkan usia mereka. Misalnya, mahasiswa yang lebih muda mungkin dianggap lebih cakap dalam menguasai teknologi dan materi pelajaran baru, sementara mahasiswa yang lebih tua mungkin dianggap kurang mampu untuk beradaptasi. Perlakuan semacam ini dapat menghambat motivasi dan pencapaian belajar individu yang lebih tua.
5. Penghargaan dan Pengakuan Sosial
Dalam kegiatan sehari-hari, sering kali ditemukan bahwa prestasi atau kontribusi dari individu yang lebih tua kurang diakui atau diapresiasi. Pada banyak kasus, pendapat atau saran yang berasal dari orang yang lebih tua diabaikan dengan anggapan bahwa pandangan mereka kurang relevan atau tidak sesuai dengan tren saat ini. Hal ini mengabaikan kekayaan pengalaman dan pengetahuan yang dapat ditawarkan oleh individu yang lebih tua.
Kesimpulan
Ageisme atau diskriminasi usia adalah masalah yang nyata dalam masyarakat. Contoh-contoh di atas hanya sebagian kecil dari banyak situasi di mana ageisme dapat terjadi dalam kegiatan sehari-hari. Penting untuk diingat bahwa usia bukanlah ukuran mutlak kemampuan atau nilai seseorang. Setiap individu, tanpa memandang usia, memiliki potensi, pengetahuan, dan pengalaman yang berharga yang dapat memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.Â
Dengan meningkatkan kesadaran tentang ageisme dan mengubah sikap serta perilaku kita, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil bagi semua generasi.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI