Mohon tunggu...
Muchamad Iqbal Arief
Muchamad Iqbal Arief Mohon Tunggu... Freelancer - Independent Content Writer

Halo, saya Iqbal Arief. Sebagai penulis aktif di Kompasiana, saya senang berbagi wawasan dan informasi menarik dengan para pembaca. Minat saya cukup luas, meliputi berbagai topik penting seperti marketing, finansial, prinsip hidup, dan bisnis. Melalui tulisan-tulisan saya, saya berharap dapat memberikan perspektif baru dan pengetahuan yang bermanfaat bagi Anda. Mari bergabung dalam perjalanan intelektual saya di Kompasiana, di mana kita bisa bersama-sama menemukan inspirasi dan wawasan baru dalam berbagai aspek kehidupan dan karier. Selamat membaca!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kematian Akibat Kelaparan: Bagaimana Sistem Sosial Kita Gagal Melindungi yang Rentan?

15 Agustus 2024   22:20 Diperbarui: 15 Agustus 2024   22:22 25
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Baru-baru ini, berita tentang seorang driver ojol di Medan yang meninggal dunia karena kelaparan mengguncang banyak orang. Bayangkan, di kota sebesar Medan, di tengah hiruk-pikuk dan gedung-gedung tinggi, ada seseorang yang kehilangan nyawanya hanya karena tidak punya uang untuk makan. 

Di era modern ini, saat kita bisa memesan makanan dalam beberapa klik di aplikasi, masih ada orang yang secara tragis tidak bisa merasakan hal yang sama. Kematian driver ini bukan sekadar tragedi personal; ini adalah cerminan dari kegagalan sistem sosial kita.

Kamu mungkin bertanya-tanya, bagaimana mungkin kelaparan masih bisa terjadi di zaman sekarang? Bagaimana bisa seorang yang bekerja keras, yang keluar rumah setiap hari untuk mencari nafkah, tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti makan? Di sinilah kita harus menghadapi kenyataan pahit: sistem sosial kita sering kali tidak mampu melindungi mereka yang paling rentan.

Kesenjangan yang Semakin Melebar

Mari kita jujur. Kemiskinan dan ketidaksetaraan bukanlah fenomena baru di Indonesia. Namun, saat kita membicarakan tentang kota besar seperti Medan atau Jakarta, sering kali ada anggapan bahwa mereka yang tinggal di kota besar pasti lebih sejahtera. Faktanya, kesenjangan antara yang mampu dan yang tidak mampu semakin nyata. Mereka yang bekerja di sektor informal, seperti driver ojol, sangat rentan terhadap guncangan ekonomi. Ketika pendapatan mereka tidak pasti, mereka sering kali terjebak dalam siklus kemiskinan yang sulit ditembus.

Baca juga: Mengubah Luka menjadi Kekuatan

Sistem sosial kita, yang seharusnya melindungi mereka dalam situasi seperti ini, justru sering kali tidak hadir. Jaring pengaman sosial yang ada seringkali tidak cukup kuat atau terlalu birokratis untuk diakses oleh mereka yang paling membutuhkan. Seorang driver ojol yang kehilangan nyawanya karena kelaparan adalah contoh nyata dari kegagalan sistem yang tidak dapat menyediakan dukungan mendasar bagi warganya.

Solidaritas yang Mulai Memudar

Indonesia dikenal dengan budaya gotong-royongnya. Di banyak komunitas, solidaritas sosial adalah benteng terakhir bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Namun, seiring dengan modernisasi dan urbanisasi, nilai-nilai ini tampaknya semakin pudar. Di kota-kota besar, kita sering kali hidup dalam "gelembung" kita sendiri, lebih sibuk dengan urusan pribadi daripada memperhatikan tetangga di sekitar. Padahal, dengan memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama, banyak tragedi seperti ini bisa dicegah.

Kamu mungkin ingat, dalam budaya kita dulu, ada istilah "pager mangkok" di mana tetangga saling berbagi makanan. Ini adalah bentuk nyata dari gotong-royong yang kini mungkin mulai memudar di masyarakat perkotaan. Ketika solidaritas ini hilang, mereka yang rentan semakin tersisih. Mereka tak hanya menghadapi ketidakpastian finansial, tetapi juga kehilangan dukungan sosial yang bisa menjadi jaring pengaman terakhir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun