Masalahnya, kuliah metodologi sains di PT umumnya cenderung dangkal. Filsafat ilmu dikesampingkan. Hanya membicarakan aspek metode riset sains, seperti metode kuantitatif (survei, eksperimen) dan metode kualiatif. Itupun tebanya cenderung sempit dan teknis.
Akibatnya, mahasiswa dan pada gilirannya juga dosen lemah dalam kemampuan berpikir saintifik, yaitu berpikir logis dan sistematis. Sebab kemampuan ini sebenarnya dibangun lewat diskusi filsafat ilmu, khususnya epistemologi.
Dasar riset saintifik adalah penguasaan logika dan sistematika. Â Artinya, mahasiswa dan dosen harus mampu berpikir logis dan sistematis.Â
Tanpa kemampuan itu, mahasiswa atau dosen tidak akan mampu membangun sebuah disain riset. Dia tidak akan mampu membangun misalnya logika  keterkaitan antara masalah, pertanyaan, teori, konsep, variabel, hipotesis, data, metode, dan teknik riset secara sistematis.
Ketakmampuan berpikir logis dan sistematis itu menyebabkan mahasiswa atau dosen malas berpikir saat dihadapkan pada keharusan membuat tugas makalah, skripsi, tesis, ataupun disertasi.Â
Kemalasan berpikir itu mendorong mereka mencari jalan pintas, membayar joki akademik untuk mengerjakan tugas-tugas itu.Â
Mentalitas menerabas semacam itu lalu difasilitasi, sekaluan diamplifikasi,  oleh para "perajin karya ilmiah (karil)" yang kemudian dikenal sebagai  "joki akademik".Â
Perjokian akademik lantas berkembang menjadi sebuah lembaga yang tak diakui keberadaannya (unsanctioned institutions), tetapi eksis karena berfungsi memenuhi kepentingan kelompok mahasiswa dan dosen pengambil "jalan pintas".
Masalah Immoralitas
Tidak ada satu alasanpun untuk membenarkan perjokian akademik. Â Hanya ada satu kata untuk kegiatan tersebut: Immoral!
Suatu perbuatan disebut immoral jika pelaku, berdasar norma yang berlaku, sangat sadar dan tahu bahwa perbuatannya buruk/salah tetapi secara bersengaja tetap melakukannya.Â