Mohon tunggu...
Muhammad Syamsuddin
Muhammad Syamsuddin Mohon Tunggu... Dosen ITB -

Upaya sederhana, semoga bisa, mendamaikan kata dengan rasa.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Pada Akhirnya Puisi Milik Pembacanya

5 Februari 2014   03:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:09 373
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bahasa. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Jcstudio

Puisi bersifat personal (subjektif), baik bagi penulisnya maupun bagi pembacanya. Pengalaman hidup yang telah dilalui seseorang akan mempengaruhi cara ia akan berinteraksi dengan sebuah puisi yang dibacanya. Ketika seseorang membaca sebuah puisi maka keterlibatan emosinya bersifat unik. Tiap pembaca mempunyai respon emosional tersendiri terhadap sebuah puisi yang sama; antara satu pembaca dengan pembaca yang lain boleh berbeda responnya. Sebuah puisi akan masuk ke hati tiap orang dengan cara berbeda-beda. Karena itu sebuah puisi akan menjadi 'milik' pembacanya. Kepemilikan disini bukan kepemilikan hak cipta atas puisi yang dibaca akan tetapi kepemilikan penghayatan dan interpretasi terhadap puisi itu sendiri.

Sebuah puisi akan berperan sebagai bahan acuan untuk menengok atau membangkitkan kembali ingatan terhadap potongan perjalanan hidup sang pembaca puisi itu sendiri. Puisi tersebut mampu memberikan bahan baku untuk proses penggalian penghayatan terdalam dari pembacanya. Hal itu secara khas akan  dialami oleh masing-masing pembaca puisi.

Sebuah puisi sepatutnya mampu berinteraksi dengan pembacanya. Maksudnya, sang pembaca puisi selayaknya mendapat bahan untuk menggali dalam dirinya penggalan pengalaman hidup yang telah dilalui ketika berhadapan dengan untaian kata yang dijumpai dalam sebuah puisi. Karena itu proses pemilihan kata dalam penulisan sebuah puisi  menjadi tahapan yang sangat penting. Kata yang terpilih hendaknya memungkinkan pembaca tersugesti untuk membawa pengalaman penyair menjadi acuan untuk menukik ke kedalaman pengalaman pembaca sendiri. Pemilihan kata bukan sekedar berururusan agar kata-kata tersebut membentuk kesatuan yang berirama. Inilah bentuk interaksi yang terjalin antara penulis dan pembaca puisi.

Puisi yang bagus memungkinkan sang pembaca menengok kembali secara spontan ke riwayat perjalanan hidupnya sendiri dengan cara yang menyentuh rasa keindahan. Berikut ini ada salah satu contoh puisi pendek yang bagus sekali karya Chairil Anwar yang berjudul Nisan.

Nisan

untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridhaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertahta.

Oktober 1942

Tiap kata dalam puisi ini akan dihayati para pembacanya dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan ini sesuai dengan riwayat pengalaman hidup yg telah dilalui oleh masing-masing pembacanya. Misalnya kata kematian yang terdapat pada baris pertama. Untuk kata ini ingatan atau kesadaran tiap orang terhadap kematian berbeda-beda. Mungkin ia ingat kakeknya, orang tuanya, anaknya, saudaranya, pamannya, tantenya, gurunya, temannya, tetangganya dsb. Mungkin ia ingat kuburan, rumah sakit, ambulans, tempat tidur, rumah duka dsb. Berbagai hal terkait dengan kata kematian akan muncul di benak tiap pembaca.

Tiap kata dalam puisi memberikan efek yang berbeda-beda bagi para pembacanya. Akibatnya multi penafsiran terhadap sebuah puisi sangat mungkin terjadi. Masing-masing penafsiran sah adanya. Penghayatan dan penasiran terhadap puisi menjadi milik pembacanya sendiri.

Sebuah puisi akan menawarkan diri sebagai sebuah acuan bagi pembacanya untuk mulai melakukan perjalanan menengok penggalan riwayat pengalamanan hidup yang telah dilalui pembacanya. Puisi yang bagus mampu menggali lebih jauh ke dalam diri pembacanya.

Di samping puisinya yang berjudul Malam, puisi berjudul Nisan ini merupakan puisi terpendek karya Chairil Anwar. Nisan merupakan puisi pertama yang dipublikasikan oleh Chairil Anwar ketika ia masih berusia 20 tahun. Mungkin ini merupakan puisi pendek terbaik oleh penyair Indonesia yang pernah diterbitkan. Tentu saja ini penilaian yang bersifat sangat subjektif.

Semoga bermanfaat.

Salam dari Bandung.

___________________

Links ke beberapa puisi pendek saya:

Puisi Pendek (1): Percakapan dengan Hujan

Puisi Pendek (2): Percakapan dengan Lumut

Puisi Pendek (3): Percakapan dengan Angin

Puisi Pendek (4): Percakapan dengan Ide

Puisi Pendek (5): Percakapan dengan Batu

Puisi Pendek (6): Percakapan dengan Bunga

Puisi Pendek (7): Percakapan dengan Jendela

Puisi Pendek (8): Percakapan dengan Dinding

Pusi Pendek (9): Percakapan dengan Tiang

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun