Secara garis besar, Sumber energi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sumber energi yang tidak dapat Diperbarui alias energi fosil, dan sumber energi terbarukan (EBT). Sumber energi tak terbarukan ini merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui alias dapat habis apabila dieksploitasi secara terus menerus. Contohnya adalah batubara, minyak bumi, gas alam, dan lain sebagainya.
Sedangkan energi terbarukan adalah sebuah kelompok energi yang kapasitasnya sangat melimpah di alam, dan juga tidak akan berakhir siklusnya hingga hancurnya alam semesta. Salah satu contohnya yaitu energi surya, angin, panas bumi, air, biogas atau biomassa, dan energi pasang surut air laut.
Energi terbarukan merupakan sebuah terobosan bagi sektor pembangkitan energi listrik. Salah satu dari energi terbarukan adalah energi surya, Indonesia diberi kelebihan atau karunia yaitu mendapat penyinaran matahari sepanjang tahun. Dan juga karena hanya memiliki dua musim, Indonesia tergolong konsisten dalam mendapat sumber energi mataharinya, yaitu sekitar 12 jam dengan jam efektifnya yaitu sekitar 6-8 jam. Sementara itu di negara lain yang terkadang di musim tertentu, misalnya musim dingin tidak mendapat matahari yang cukup, sehingga PLTS tidak cocok pada musim tersebut.
Berdasarkan website untuk melihat Global Horizontal Irradiation, yaitu SOLARGIS, Indonesia tergolong cukup berpotensi untuk memanfaatkan energi surya. Namun disamping Indonesia, terdapat negara lain yang tergolong berpotensi lebih tinggi untuk memanfaatkan energi surya, yaitu negara Mexico, Argentina, Arab Saudi, Afrika, China, dan Australia. Negara negara tersebut memiliki gurun yang sangat luas dan memiliki curah hujan yang minim. Sehingga apabila dimanfaatkan dengan baik yaitu dipasangkan atau dibangun sebuah PLTS, energi listrik yang didapat akan besar dan tergolong konsisten.
Bagaimana dengan kondisi energi terbarukan di Indonesia? Di Indonesia Keberadaan sumber daya alam energi terbarukan tergolong melimpah, bahkan apabila dibandingkan dengan negara manapun. Berdasarkan data yang diambil dari kementrian energi dan sumber daya mineral, potensi Indonesia untuk menyerap energi surya untuk dikonversi menjadi energi listrik yaitu sebesar 207,8 GW. Angka ini tergolong tinggi karena tidak semua negara memiliki potensi sebesar ini. Selain wilayah yang tergolong luas, tingginya angka tersebut juga karena Indonesia berada di garis khatulistiwa yang hanya memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Saat musim hujan mungkin produksi listrik PLTS akan semakin berkurang. Namun ketika musim kemarau tiba, matahari menyinari lebih lama daripada musim penghujan.
Berdasarkan data dari BP Statistical Review of World Energy and Ember (2021), tabel tersebut menunjukan bahwa Indonesia masih tergolong kurang dalam produksi listriknya. Apabila dibandingkan dengan negara Turki, sebagai saingan terdekat dalam produksi listrik, Indonesia masih kalah jauh jumlah produksi listriknya walaupun luas wilayah negara Indonesia lebih luas.
Apabila dibandingkan dengan negara yang luas wilayahnya hampir mirip dengan Indonesia yaitu negara Iran, produksi listriknya masih tergolong kurang sekitar 28 TWh selisihnya. Angka ini tergolong tinggi karena untuk meningkatkan sebesar 28 TWh membutuhkan banyak sektor energi untuk mencapai angka tersebut.