Setiap pengantin baru pasti berharap keindahan malam pertama. Bahkan, malam pertama selalu menjadi kenangan sepanjang masa.Â
Namun nasib sial menimpa Kamdi. Pengantin baru yang sudah seminggu belum bisa belah duren juga. Padahal, dia kawin udah telat. Usia kepala tiga baru berani meminang gadis satu kampung nya. Â Gadis berusia tujuh belas tahun. Baru tamat SMA. Dan belum pernah pacaran.Â
Nah ini juga menjadi kebanggaan Kamdi sekaligus malapetaka. Istrinya selalu ketakutan, padahal baru pada tahap pemanasan. Â Baru mulai naik, Kamdi harus menurunkan lagi.Â
Hingga sampai hari kedelapan. Â Berarti sudah seminggu belum menikmati malam pertama. Padahal teman teman yang ketemu di jalan selalu senyum senyum dan tanya, "Gimana durennya, Kam? "
Di malam kedelapan. Benar benar malam kedelapan. Masih ingat betul Kamdi peristiwa itu. Â Kira kira tengah malam pukul 01.16.05 (pukul satu lebih enam belas menit lebih lima detik).Â
Salamah, istri Kamdi, terbangun. Karena istrinya terbangun, Kamdi yang belum tertidur bertanya, "Mau le mana, Yang? "
"Mau kencing, " jawab Salamah agak malas.Â
"Aku juga pengin kencing. Tapi aku mager ke kamar mandi. Takut ketahuan ibumu. Boleh nitip, Yang? " tanya Kamdi.Â
"Bagaimana caranya? " tanya Salamah kembali ke tempat tidur.Â
Kamdi pun mengajari Salamah cara menitipkan kencingnya. Salamah sendiri belum begitu sadar, ketika suara dengus Kamdi semakin lama semakin berubah.Â