Gelayut mendung membuat jalanan setapak itu agak samar terlihat. Kakiku terkadang terantuk batu yang nongol sebagian dari dalam tanah jalanan yang tak rata.Â
"Sebentar lagi sampai, " bisikku pada kaki yang seakan hendak menyerah.Â
Tinggal satu kelokan. Seratus meter ada sebuah gubuk. Ketika saja. Walaupun dia sudah sepuh, ia akan tetap bisa mendengarnya. Pendengarannya malah lebih tajam dari pendengaran kita.Â
Semoga pesan yang kuterima dari Arin benar. Dan Semoga kakiku masih bisa diajak kompromi.Â
"Kamu akan melewati jalanan setapak dan menanjak. Kalau mendung dari hari senja, kau mungkin juga akan kesasar. Hanya hatimu yang aja mampu menuntunmu sampai ke rumahnya, " kata Arin, antara meyakinkan dan melakukan percobaan uji niat.Â
Dan benar juga. Tanpa niat yang kuat, siapa pun akan lebih baik balik kanan, pulang ke kandang. Tenteram. Meski kalah.Â
Aku sendiri sudah pasrah. Karena hanya ini satu satunya cara untuk menyelamatkan biduk rumah tanggaku.Â
"Tidak bisa pakai akal lagi, " kata Arin, sahabatku yang selalu menjadi ajang curhat tetek bengek kelakuan suamiku sejak setahun belakangan ini.Â
"Lalu...? "
"Musuhmu seorang artis. Bukan hanya artis belaka, tapi semua orang tahu jika (Arin menyebut nama perempuan laknat yang telah menggaet hati suamiku) pakai ilmu orang pinter, " sambung Arin yang ternyata lebih gregetan tenimbang aku sendiri.Â
"Apa yang harus aku lakukan? " tanyaku nyaris bego.Â
Dan Arin memberikan alamat yang sekarang sedang aku tuju. Arin sendiri tidak bisa mengantar.Â
Rumah itu ada di sebelah kanan jalan setepak. Â Aku berbelok ke kanan menuju rumah dengan ciri seperti disebutkan Arin.Â
"Assalamu'alaikum."
Tak ada jawaban. Adakah dia di dalam? Kata Arin pasti dengar.Â
"Assalamu'alaikum."
Belum juga ada jawaban. Ketika aku lihat ada bangku. Kontan saja otakku mengajak langkah kaki ke sana.Â
"Kamu tertidur tadi. Sepertinya kecapean, " kata seorang nenek yang sedang memasak air.Â
Aku lihat di luar terang. Sudah pagi lagikah? Berarti aku tertidur semalam suntuk? Dan siapa yang memindahkannya ke dalam?Â
"Minum teh dulu, " ujar nenek itu.Â
Aku masih merasa heran.Â
"Aku sudah siapkan kembang itu. Ada di plastik biru. Bawalah. Saya ada perlu ke kebun sebentat. Kalau sudah enakan dan mau pulang, tak usah menungguku, pulang saja. "
Dan kecubung pengasihan itu aku dapatkan. Aku masih simpan rapi di tempat yang hanya aku saja yang tahu.Â
Suamiku masih tertidur. Mungkin kelelahan. Setelah pertempuran semalam.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI