Jika sajak-sajakku mati dalam peraduan setelah bercinta dengan rembulan, aku akan menguburkannya di halaman belakang, sebuah tempat yang tepat untuk memakamkan kenangan.
Jika puisi-puisiku terus hidup di hati seorang perempuan, karena itu bisa membuatnya menjauh dari ratapan, aku akan menanamnya di halaman depan, tempat terbaik untuk menyemai harapan.
Apabila sajak dan puisiku mati dan hidup saling berganti, terbunuh malam dan ditiupkan ruh oleh pagi, aku akan membiarkan diriku menjadi kabut, hidup di antara sosok absurd namun berwujud.
Apabila sajak dan puisiku berniat bunuh diri karena patah hati, aku tidak akan memilih harakiri, aku bukan lagi seorang ronin yang kesepian, aku telah melalui begitu banyak keramaian yang melelahkan.
Manakala dalam puncaknya yang begitu sunyi, malam melewatkan kesempatan untuk jatuh cinta lagi, aku akan menuliskan puisi-puisi tentang kerinduan langit terhadap matahari.
Manakala dalam kematiannya yang epik di setiap akhir metamorfosa, seekor kupu-kupu yang telah bersedia menjadi rahim masa, menjelma dalam warna-warni sebuah saga, aku akan membacakan sajak-sajak renta tentang bagaimana cara mencinta yang sebenar-benarnya.
Yaitu dengan tidak memikirkannya. Laluilah saja semua. Dengan cara tidak terbata-bata.
Jakarta, 30 Mei 2019
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI