Aku sedang bertabik, pada rindu yang berlalu di hadapanku, dengan caranya yang gagu, namun sanggup memporak-porandakan susunan batu-batu. Di hatiku.
Seumpama Sun Tzu, rindu akan mengepung pikiran dari segala penjuru. Menempatkan kita sebagai musuh nomor satu. Juga teman bersekutu paling syahdu.
Sebagai musuh, kita akan dibombardir dengan dahsyatnya rusuh. Di puncak rasa gaduh. Sampai kita perlahan-lahan runtuh.
Sebagai sekutu, kita akan dibawanya hingga langit ke tujuh, menyemai awan, memanen hujan, dan kembali ke bumi, dengan musim semi di hati.
Sebagai filosofi, rindu adalah sepi, sekaligus wujud reinkarnasi, dari jiwa yang telah mati, terlahir kembali, dalam mimpi-mimpi yang bernarasi.
Ketika rindu, bersepakat dengan waktu, untuk bersama-sama menjadi filosofi, aku dan kamu adalah bagian dari teka-teki, yang telah dipecahkan, menjadi kesimpulan.
Ketika rindu, menjumpai cintanya, bersama-sama memulung bahagia, aku dan kamu menjadi realita, dari rencana-rencana, yang telah sampai pada kenyataannya.
Bogor, 4 Maret 2019
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H