Kalau kau ingin mengabadikan jalinan kata, buatlah sebuah sajak yang mencintai syairnya sendiri. Agar bisa meniupkan ruh. Sehingga kata-katanya tak akan runtuh.
Kalau kau mau mengabadikan cinta, buatlah sebuah sajak yang menjadikan tanda bacanya sebagai kekasih. Supaya ada hitam putih kepastian. Bukan lagi abu-abu sebagai harapan.
Kalau kau hendak mengabadikan rasa, buatlah sebuah sajak tentang manis dan pahit. Sebab dua rasa itulah yang menggambarkan bumi dan langit. Sekaligus simbol mengenai sederhana dan rumit.
Aku ingin, aku mau, aku hendak
mengabadikan setiap kata yang kutulis
tentang cinta berikut turunannya
ke dalam rasa yang sesungguhnya
Aku menolak kata yang mancala rupa
seolah bernyawa tapi mati adanya
aku menolak cinta yang beralih muka
seolah bahagia padahal nyatanya terluka
aku menolak rasa yang memusuhi makna
seolah legit namun sebenarnya sepahit maja
Aku menolak bukan karena tidak terima. Aku hanya berharap kata, cinta dan rasa berada pada tempat yang semestinya. Pada kalimat, hati dan jiwa.
OKI, 10 Oktober 2018
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI