Separuh jalanan telah dipanaskan matahari. Â Separuhnya lagi masih diselubungi dinginnya pagi. Â Aku berdiri di antaranya. Â Mencoba menjadi perantara. Berpindahnya beku pada bara.
Pucuk cemara masih serupa hantu. Â Membatu di jalur waktu. Â Tanpa angin. Â Cemara itu benar-benar tak punya ingin.
Langit nampak sedang berbersih muka. Â Menyingkirkan noktah awan yang menutupi mata. Â Hari ini langit ingin memandangi bumi sepenuh-penuhnya. Ini kesempatan yang diberikan cuaca. Â Tak akan disia-siakan walau sekelompok mendung hitam memohon diberikan laluan.
Sepasang mata dari balik jendela. Â Menuliskan embun di permukaan kaca; Â Di setiap cinta, selalu ada pagi yang bersahaja, matahari yang sederhana, dan malam yang semenjana. Â Itu cukup. Â Tak perlu pagi yang redup, matahari yang meletup-letup, dan malam terantuk kabut.
Sepasang mata dari balik jendela. Â Gagal melahirkan airmata. Â Pagi terlalu bergembira jika hanya untuk mengenang kembalinya senja.
Bogor, 18 Agustus 2018
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI