Yang pertama, kita harus paham apa yang kita kerjakan. Disini artinya kita memahami, tujuannya, tahapan, output dan tentu prosesnya. Dengan pemahaman yang baik, logikanya kita tidak akan terjebak menjadi 'asal sibuk', dan 'asal kerja keras'.
Yang kedua, siapkan mental. Pupuk keyakinan bahwa, kita memang ingin mencapai satu tujuan, yang ditentukan sejak awal. Jangan gampang terpengaruh oleh hal-hal lain. Jadi fokus lah kepada tujuan yang ingin dicapai. Tentu perlu juga menjadi sedikit fleksibel.
Ketika Anda merasa sudah cukup, ya berhenti saja. Jangan merasa, tidak puas, ragu-ragu dan galau dengan hasil kerja Anda. Sering terjadi semakin diulik, bukannya jadi tambah bagus, malah jadi berantakan.
Dan yang ketiga, tentunya adalah alat bantu, seperti, misalnya yang paling populer, To Do List. Apabila telah terbiasa dengan To Do List, kita akan terlatih akan dua sense. Nomor satu, kita terlatih untuk melihat prioritas, dan yang kedua, kita jadi terbiasa untuk melakukan estimasi waktu pelaksanaan.
Pegangan ini ternyata membuka pintu baru untuk mempelajari hal hal baru lagi, apakah itu lebih teliti mempelajari suatu project, prioritas dan kesiapan kita dalam menjalankan tugas. Karena pada hakikatnya sebuah pengetahuan akan selalu saling terkait, ketika kita fokus kepada satu area, terbuka kemungkinan untuk masuk ke area pengetahuan lain. Menarik juga ternyata.
Sekarang mari kita kembali ke kesimpulan. Jangan terjebak kepada asal sibuk, cermati hal lain yang berkaitan dengan kualitas. Dengan mengunakan perspektif ini kita tentu tidak akan terjebak dalam berbagai pikiran negatif tentang produktivitas, seperti, merasa masih belum optimal, terus dikejar-kejar waktu, atau munculnya penyesalan2 dalam melakukan pekerjaan.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, Selamat mencoba!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H